5 Cara Digitalisasi Bikin Bisnis Lebih Efisien, Belajar dari Kisah Sukses Mau Laundry
Jakarta, 27 Februari 2026 — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus tumbuh di Indonesia, termasuk bisnis penatu (laundry) yang menjamur di kawasan permukiman padat dan sekitar perkantoran. Namun tantangan pelaku usaha kini bukan hanya soal kualitas layanan, melainkan juga kemampuan beradaptasi di era digital.
Banyak bisnis laundry masih mengandalkan promosi tradisional dan belum membangun kehadiran digital. Padahal, calon pelanggan kini lebih sering mencari layanan terdekat lewat ponsel, membaca ulasan, lalu memesan melalui chat. Tanpa visibilitas digital, usaha menjadi sulit ditemukan, respons lambat, dan operasional berisiko tidak efisien akibat transaksi kecil yang sering, pembayaran bercampur, serta pencatatan tidak konsisten.
Baca juga: QRIS Tanpa Rekening Baru: Cara iFortePay Buka Jalan Digitalisasi UMKM
Digitalisasi menjadi pembeda. Tidak harus langsung serba canggih, pelaku usaha bisa memulai dari kebutuhan operasional yang paling sering terjadi. Berikut lima langkah digitalisasi yang bisa diterapkan agar bisnis lebih rapi dan efisien:
1. Jangkau Pelanggan via WhatsApp dan Google Maps
Gunakan WhatsApp sebagai “meja depan” untuk menerima pesanan dengan respons cepat. Lengkapi dengan layanan antar-jemput agar pelanggan tetap terlayani tanpa harus datang langsung.
Selain itu, optimalkan profil Google Maps dengan memperbarui foto, jam operasional, dan membalas ulasan pelanggan. Visibilitas di pencarian lokal sangat penting karena banyak orang mengetik “laundry dekat sini” sebelum memutuskan.
Strategi ini diterapkan oleh Muhammad Irfan, pemilik Mau Laundry. Ia aktif memperbarui informasi usahanya di Google Maps dan menyapa pelanggan lama melalui WhatsApp ketika order sedang sepi.
2. Gunakan Pembayaran Nontunai untuk Transaksi Lebih Cepat
Pembayaran tunai kerap memicu kendala uang kembalian dan risiko selisih pencatatan. Dengan QRIS, nominal pembayaran menjadi pas sesuai tagihan dan tercatat otomatis.
Irfan memanfaatkan DANA Bisnis sebagai metode pembayaran sekaligus pencatatan transaksi. Dengan riwayat digital, ia dapat memastikan cucian dibayar tepat waktu.
3. Pantau Pemasukan Tanpa Hitung Uang Setiap Hari
Transaksi laundry yang kecil dan rutin berpotensi tercecer jika dicatat manual. Sistem digital memudahkan pemilik usaha memantau pemasukan secara real time serta mendeteksi pembayaran yang belum masuk.
Melalui DANA Bisnis, Irfan dapat mencocokkan pembayaran dengan cucian yang telah diambil pelanggan tanpa perlu menghitung uang tunai satu per satu.
Baca juga: Ketimbang Nambang Timah Pria ini Lebih Pilih Usaha Madu
4. Pisahkan Uang Usaha dan Pribadi
Memisahkan arus kas usaha dan keuangan pribadi membantu pelaku usaha melihat laba bersih, menghitung biaya operasional secara akurat, dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.
Sejak menerima pembayaran melalui QRIS ke akun DANA Bisnis, arus kas usaha Irfan tercatat terpisah sehingga lebih mudah dikontrol.
5. Percepat Perputaran Arus Kas
Bisnis laundry membutuhkan perputaran kas cepat untuk membeli deterjen, plastik, dan kebutuhan operasional lainnya. Sistem pembayaran digital memungkinkan saldo langsung digunakan tanpa proses transfer tambahan.
Irfan memanfaatkan saldo di DANA Bisnis untuk belanja kebutuhan usaha, sehingga operasional tetap lancar tanpa hambatan teknis.
“Waktu awal mengelola Mau Laundry, saya lebih banyak mengandalkan ingatan sehingga sulit memperkirakan kapan usaha akan ramai. Setelah menggunakan DANA Bisnis, saya bisa lebih mudah membaca kondisi usaha,” ujar Irfan.
Kini, Mau Laundry telah beroperasi di Jakarta Timur dan Bekasi, serta mulai membuka peluang kemitraan (franchise). Digitalisasi membantu transaksi dan arus kas lebih tertata, mengurangi pekerjaan repetitif, serta menekan risiko kesalahan administrasi.
Bagi pelaku UMKM, langkah digital sederhana dapat membawa perubahan besar. Efisiensi bukan hanya soal teknologi canggih, melainkan konsistensi dalam memanfaatkan solusi yang tepat guna untuk operasional harian.
