6 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Merusak Mata

Jakarta, 28 Januari 2026 – Di era layar dan ritme hidup yang serba cepat, mata sering diperlakukan sebagai alat yang selalu siap pakai. Dari pagi hingga malam, ia dipaksa menatap layar, membaca pesan, memindai data, tanpa banyak kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Padahal, banyak gangguan penglihatan bermula bukan dari penyakit berat, melainkan dari kebiasaan harian yang tampak sepele.

Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan ini perlahan menurunkan kualitas penglihatan, bahkan dapat berujung pada kerusakan permanen jika terus dibiarkan.

1. Menatap Layar Terlalu Lama Tanpa Jeda

Gawai dan komputer telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, menatap layar dalam waktu lama membuat frekuensi berkedip menurun drastis. Akibatnya, mata mudah kering, perih, dan terasa berat—kondisi yang dikenal sebagai computer vision syndrome.

Memberi jeda sederhana, seperti mengalihkan pandangan secara berkala ke objek jauh, membantu mata kembali rileks dan terhidrasi secara alami.

2. Pemakaian Lensa Kontak yang Tidak Disiplin

Lensa kontak memang praktis, tetapi juga menuntut kedisiplinan tinggi. Tidur dengan lensa kontak, jarang membersihkannya, atau memakainya melebihi waktu yang dianjurkan dapat memicu infeksi serius pada kornea. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bahkan berisiko menyebabkan gangguan penglihatan permanen.

3. Mengabaikan Perlindungan dari Sinar Matahari

Banyak orang masih menganggap kacamata hitam sekadar aksesori. Padahal, paparan sinar ultraviolet (UV) berlebihan dapat mempercepat munculnya katarak dan meningkatkan risiko degenerasi makula. Perlindungan UV 100 persen menjadi langkah sederhana namun penting saat beraktivitas di luar ruangan.

4. Gaya Hidup yang Tidak Seimbang

Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang tidur, serta pola makan buruk berdampak langsung pada kesehatan mata. Kebiasaan ini mengganggu sirkulasi darah dan suplai oksigen ke jaringan mata, mempercepat kerusakan retina, dan menurunkan kualitas penglihatan secara perlahan.

5. Membaca Sambil Berbaring

Membaca dalam posisi berbaring memaksa mata bekerja pada sudut dan jarak yang tidak ideal. Mata harus berakomodasi lebih keras, sehingga cepat lelah dan memicu penglihatan kabur. Jika menjadi kebiasaan, risiko gangguan refraksi akan meningkat seiring waktu.

6. Membaca dengan Pencahayaan yang Buruk

Pencahayaan yang terlalu redup membuat mata bekerja ekstra untuk fokus, sementara cahaya yang terlalu terang dapat menyebabkan silau. Keduanya sama-sama memberi tekanan berlebih pada mata. Pencahayaan ideal seharusnya cukup terang dan datang dari samping atau belakang bahu.

Kapan Perlu Memeriksakan Mata?

Keluhan mata tidak selalu bisa diabaikan. Segera periksa ke dokter mata jika mengalami mata sering kering atau berair, penglihatan buram atau ganda, sakit kepala setelah menatap layar, kesulitan melihat di malam hari, muncul lingkaran cahaya, atau penurunan penglihatan secara tiba-tiba.

Menjaga mata bukan sekadar soal kenyamanan hari ini, tetapi investasi untuk kualitas hidup di masa depan. Di tengah dunia yang semakin visual, mata adalah aset yang bekerja paling keras—dan sering paling terlupakan.

Artikel ini ditinjau oleh: Ditinjau oleh: Dr. Joko Satrio, SpM