Indonesia Eximbank Perkuat Daya Saing Ekspor Kemiri asal Lombok

Lombok, 8 Desember 2025 — Indonesia Eximbank (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia/LPEI) menegaskan komitmennya dalam memperkuat UKM berorientasi ekspor melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Kali ini, dukungan difokuskan pada pengembangan Desa Devisa Kemiri di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan ekspor.

Data Indonesia Eximbank Institute mencatat, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-13 eksportir kemiri dunia dengan nilai ekspor sekitar USD 4 juta atau 0,5% dari total global. Namun tren terbaru menunjukkan lonjakan signifikan: ekspor kemiri meningkat 350% secara tahunan dengan nilai mencapai USD 9,58 juta. Dari sisi volume, kenaikan bahkan lebih besar, yakni 413% menjadi 6,95 ribu ton. Bangladesh dan Malaysia menjadi tujuan ekspor dominan dengan pangsa 64%.

Baca juga: Oversubscription 150%: Sinyal Kuat Kepercayaan Global terhadap Indonesia Eximbank

Sementara itu, Amerika Serikat dan Tiongkok tercatat sebagai pasar terbesar dunia dengan nilai impor masing-masing USD 500 juta dan USD 320 juta. Potensi pasar belum tergarap juga masih luas, termasuk peluang senilai USD 232 juta di Tiongkok, USD 82 juta di Amerika Serikat, USD 28 juta di Vietnam, USD 20 juta di Jerman, dan USD 10 juta di Belanda.

Menangkap peluang tersebut, Indonesia Eximbank memberikan bantuan strategis untuk meningkatkan kualitas dan daya saing kemiri asal Lombok Tengah. Dukungan meliputi satu unit Automatic Vacuum Packager untuk memperpanjang masa simpan dan menjaga higienitas, dua unit mesin pendingin/dryer untuk mempercepat proses pengeringan dan pemecahan kemiri, serta 2.000 bibit kemiri varietas unggul untuk peremajaan lahan dan peningkatan produktivitas.

Baca juga: SHV Lakukan Ekspor Perdana Rempah Maluku ke Vietnam

Desa Devisa Kemiri di Lombok Tengah telah menjadi salah satu kontributor ekspor kemiri nasional. Program pembinaan Indonesia Eximbank mencakup 40 desa dan memberdayakan sekitar 350 petani, di mana 60% merupakan petani inti perempuan. Kapasitas produksi mencapai hingga 120 ton per tahun, dengan sekitar 40% hasilnya ditujukan untuk pasar ekspor.

“Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas produk kemiri lokal, menjaga standar mutu pasca panen, serta mendukung pemberdayaan petani agar pendapatan masyarakat dapat meningkat,” ujar Anggota Dewan Direktur Indonesia Eximbank, Yon Arsal, pada penyerahan bantuan TJSL di Lombok.