Kedaulatan AI Menjadi Kunci Masa Depan Digital
Jakarta, 16 Desember 2025 – IBM mengungkap sejumlah tren mendasar AI yang akan menjadi kunci bagi bisnis di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, pada tahun 2026. Tren ini merupakan kelanjutan dari fokus IBM sepanjang tahun lalu untuk menjadikan AI lebih mudah diakses, lebih bertanggung jawab, dan lebih relevan bagi pelaku bisnis, pembuat kebijakan, serta masyarakat Indonesia.
AI telah bergeser, dari fase eksperimental, menjadi kebutuhan mendasar yang mengubah cara keputusan dibuat, dan bagaimana peran kerja didefinisikan, dan apa yang diharapkan oleh pelanggan.
Organisasi kian sadar akan pentingnya mengintegrasikan AI sebagai inti dari operasional bisnis mereka. Catherine Lian, General Manager dan Technology Leader IBM ASEAN, mengungkapkan sejumlah tren AI penting yang patut diperhatikan pada tahun 2026 di sesi media briefing yang dilakukan pada Kamis 11 Desember 2025.
Baca juga: Mayoritas Perusahaan di Indonesia Belum Siap Adopsi AI
Kedaulatan AI (Sovereign AI/AI Sovereignty)
Di tengah ketegangan geopolitik, berbagai negara berinvestasi pada Sovereign AI dan cloud untuk mempertahankan kendali atas teknologi, data, dan infrastruktur mereka. Langkah ini mencakup pengembangan model lokal serta infrastruktur yang berdaulat guna memenuhi kebutuhan terkait kedaulatan data, kemampuan multibahasa, nuansa budaya, dan keamanan nasional.
Kedaulatan digital adalah kemampuan sebuah organisasi dalam mengendalikan data, perangkat lunak, dan infrastruktur digitalnya, melampaui sekadar kepatuhan namun juga demi membangun kepercayaan melalui transparansi dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
Studi IBV “Why CEOs Must Act Now to Secure the Future” memberikan data-data terkait hal-hal tersebut diantaranya:
- Pada tahun 2027, 80% organisasi multinasional di Asia Pasifik akan menerapkan strategi kedaulatan data.
- Pasar sovereign cloud di Asia Pasifik diperkirakan tumbuh 4,5 kali lipat, dari $37 miliar pada tahun 2023 menjadi $169 miliar pada tahun 2028.
- Pengeluaran di industri yang teregulasi seperti perbankan meningkat hampir lima kali lipat, dari $14 miliar (2023) menjadi $66 miliar pada tahun 2028.
- Pasar sovereign cloud di Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 31,5% atau mencapai $36,7 miliar pada tahun 2027.
Beberapa hal yang harus dilakukan bisnis untuk bersiap:
- Jadikan kedaulatan digital sebagai prioritas pada tingkat direksi.
- Gunakan hybrid cloud untuk memperoleh fleksibilitas dalam mengintegrasikan infrastruktur cloud yang bersifat publik, privat, dan berdaulat, sehingga dapat memberikan organisasi kendali penuh untuk mematuhi aturan kedaulatan data sambil tetap terhubung secara global dan mengakses teknologi yang mutakhir.
- Membangun kolaborasi strategis di ranah teknologi yang berdaulat untuk memperkuat ekosistem bisnis.
- Komitmen untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja dalam teknologi yang berdaulat karena mereka akan menjadi penggerak utama keberhasilan solusi AI di perusahaan.
AI sebagai Penggerak Pertumbuhan
Return on investment (ROI) yang nyata dari AI akan muncul saat AI mampu menciptakan diferensiasi kompetitif, memperbarui model bisnis, serta membuka produk, layanan, dan sumber pendapatan baru.
Studi IBV “APAC AI Outlook 2026” menunjukkan beberapa data yang relevan terhadap hal tersebut:
- 64% CEO global menyadari bahwa keberhasilan AI lebih bergantung pada adopsi oleh manusia daripada teknologi itu sendiri.
- 72% CEO yang tercatat memiliki kinerja terbaik menyatakan bahwa GenAI tingkat lanjut merupakan sumber keunggulan kompetitif mereka.
- 85% eksekutif global percaya AI akan memungkinkan terciptanya model bisnis baru, namun masih terdapat kesenjangan besar antara ambisi dan transformasi yang nyata.
- 95% eksekutif global berharap GenAI dapat menghasilkan revenue, menjadikan AI sebagai aset strategis yang menghasilkan modal baru.
Dengan menghadirkan pendekatan baru untuk menciptakan dan memberikan nilai, AI akan berevolusi dari sekadar pusat biaya menjadi mesin pertumbuhan yang memperluas pasar dan pendapatan Perusahaan, hingga akhirnya menjadi investasi yang mandiri.
Keputusan yang lebih cepat akan mengubah disrupsi menjadi peluang, namun keberhasilan bergantung pada AI yang mampu bertindak, bukan hanya membantu. Penting untuk organisasi dapat mempersiapkan diri diantaranya dengan:
- Membuat roadmap yang jelas untuk perjalanan transformasi AI, dengan memprioritaskan peningkatan produktivitas melalui automasi, dan memastikan keberhasilannya dengan pengukuran yang konsisten.
- Meningkatkan kapasitas dan keterampilan talenta, karena mereka memahami proses bisnis dan tantangan perusahaan secara mendalam.
- Evaluasi ulang model bisnis untuk melihat apakah masih relevan atau perlu diperbarui
- Temukan cara untuk membiayai AI dengan mengidentifikasi sumber pendapatan baru.
Meningkatkan Interoperabilitas Agen AI
Tahun 2026 diperkirakan menjadi era pengoperasian agen AI dalam skala besar. AI Agentik mengubah operasi perusahaan melalui agen otonom yang peka terhadap konteks, mampu bertindak, mengambil keputusan, dan berkolaborasi. Model berbasis alur kerja (workflow-centric) memungkinkan integrasi agen ini dalam proses end-to-end, menggantikan silo dengan orkestrasi otomatis yang cerdas. Seiring dengan perkembangan ini, fokus akan bergeser secara signifikan ke kemampuan untuk mengamati, mengevaluasi, dan mengoptimalkan alur kerja agen, serta penerapan kebijakan yang ketat untuk mengelola dan mengatur perilaku agen yang semakin otonom.
Studi IBV, “The Essential Guide to Scaling Agentic AI” menunjukkan beberapa data yang relevan terhadap hal tersebut:
Baca juga: Masihkah PR Dibutuhkan di Era AI? Ini Jawaban Praktisi
- 76% responden global menyadari mereka membutuhkan arsitektur yang bersifat terbuka dan aman, tetapi kurang dari sepertiga yang memiliki kemampuan interoperabilitas dan skalabilitas yang memadai.
- 74% memiliki kerangka kerja tata kelola data yang jelas.
- 64% menyatakan bahwa manusia dan sistem multi-agen bekerja bersama untuk mencapai tujuan strategis, tetapi kurang dari separuh yang mengukur dampak agen AI terhadap karyawan, pelanggan, dan bisnis.
- 47% beralih ke platform cloud demi skalabilitas dan fleksibilitas
AI Agentik membutuhkan aliran data real-time yang berkelanjutan serta sistem data yang mampu beradaptasi seiring agen belajar dan berkembang. Penting untuk bisnis dapat mempersiapkan diri diantaranya dengan:
- Memiliki persyaratan dasar untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI) yang bersifat agen untuk memastikan arsitektur teknologi dirancang secara khusus untuk mendukung agen otonom.
- Manfaatkan infrastruktur cloud atau hybrid untuk memetakan komponen penting seperti agen otonom, data yang dibutuhkan, dan koneksi lintas lingkungan operasi.
- Mulai dengan pilot berskala kecil untuk menguji performa agen dan model dalam lingkungan terkontrol.
- Gunakan tahap awal ini untuk mempelajari hal-hal penting sebelum memperluas operasinya ke lintas domain.
- Seiring dengan berkembangnya alur kerja berbasis agen, keamanan dan kepatuhan harus diintegrasikan sejak awal, terutama dengan memperluas dan menyesuaikan kerangka kerja keamanan yang ada untuk mengatur sistem-sistem otonom baru.
Dengan berfokus pada alur kerja, bukan silo, perusahaan dapat mengidentifikasi proses yang dapat diotomatisasi atau disederhanakan. Alur kerja yang lebih cepat akan mengurangi friksi, menekan biaya, dan meningkatkan produktivitas, serta meningkatkan pengalaman pelanggan maupun karyawan. Contoh yang telah dilakukan di IBM adalah perusahaan menggunakan AI dan automasi untuk mendorong produktivitas sebesar $4,5 miliar, di mana penghematannya kemudian diinvestasikan kembali ke Penelitian dan Pengembangan (R&D) teknologi terdepan, solusi, dan penjualan.
AI yang Terpercaya
Investasi pada etika AI berkorelasi dengan hasil bisnis yang lebih baik. Organisasi dengan investasi etika tertinggi dalam AI secara konsisten memperoleh profit dan ROI berbasis AI yang lebih tinggi. Studi IBV terbaru menemukan:
- 95% eksekutif mengatakan kepercayaan konsumen terhadap AI akan menentukan keberhasilan produk dan layanan baru.
- 89% konsumen ingin mengetahui kapan mereka berinteraksi dengan AI.
- 56% konsumen sangat antusias dengan layanan AI sehingga mereka siap menerima kekurangan.
Namun:
- Empat dari lima pelanggan akan mengurangi kepercayaan pada brand jika AI disembunyikan dalam pengalaman yang diberikan pada mereka.
- Dua pertiga akan berpindah brand jika hal itu terjadi.
- Setengah dari mereka bersedia membayar lebih untuk melakukannya.
Meskipun etika hanya mencakup sebagian kecil dari total nilai AI, dampaknya signifikan karena mencerminkan kematangan praktik AI dalam suatu organisasi. Pada akhirnya, kepercayaan pelanggan adalah aset utama, dan transparansi membuka ruang bagi inovasi.
Organisasi dapat membangun kepercayaan dengan menjadikan pelanggan sebagai mitra proses percobaan, bukan objek uji coba, dengan:
- Masukkan transparansi sejak tahap desain produk berbasis AI.
- Tunjukkan nilai yang diterima pelanggan sebagai imbalan atas data yang mereka berikan; tawarkan opsi penghapusan dan portabilitas data di luar batas minimum regulasi.
- Libatkan pengguna paling loyal untuk menguji fitur AI baru sebelum peluncuran secara lebih luas.
Keunggulan Kuantum (Quantum Advantage)
Ketika komputasi kuantum mendekati tahap yang “memberikan keuntungan” yaitu saat komputer kuantum mampu menyelesaikan masalah lebih baik daripada metode klasik, teknologi ini berpotensi mempercepat pelatihan model AI melalui optimasi yang lebih cepat, sampling lebih efisien, dan simulasi sistem kompleks yang lebih baik. Sebaliknya, AI kini juga membantu mengoptimalkan alur kerja kuantum, mulai dari desain algoritma, strategi error correction, hingga alokasi sumber daya pada arsitektur yang menggabungkan komputasi kuantum dan klasik.
Menurut riset terbaru IBV, kemajuan akan sangat bergantung pada kolaborasi ekosistem. Para pengguna awal sudah mulai memperoleh keunggulan, dengan organisasi yang siap memasuki era komputasi kuantum tiga kali lebih mungkin berpartisipasi dalam berbagai ekosistem dibanding yang lain. Studi tersebut menemukan:
- 79% eksekutif mengatakan kemitraan ekosistem mempercepat adopsi teknologi.
- 89% menyatakan kemitraan ekosistem membantu membatasi dampak disrupsi.
- 77% percaya kualitas data ekosistem meningkatkan hasil bisnis.
- 86% mengatakan data ekosistem dalam tool dan aplikasi AI meningkatkan kapabilitas AI.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi era keunggulan kuantum, organisasi perlu bersiap dengan melakukan hal-hal berikut:
- Identifikasi peluang besar (big bets) untuk memenangkan kompetisi dalam industri melalui teknologi yang terus berkembang seperti kuantum.
- Berkolaborasi dalam inovasi untuk berbagi biaya, mengurangi risiko, dan mempercepat pembelajaran.
- Pilih mitra yang terbuka, terpercaya, dan inovatif.
- Latih agen AI menggunakan data dalam ekosistem agar lebih hemat biaya dan lebih mudah diperbarui sesuai kebutuhan.
“Perkembangan AI ini memberikan pesan bahwa masa depan dimiliki oleh organisasi yang mampu beradaptasi, dan beradaptasi dengan cepat. Sovereign AI akan menjadi kunci pada tahun 2026 karena kepatuhan akan menjadi syarat penting bagi pertumbuhan sekaligus peluang untuk memastikan arsitektur data tetap aman. AI adalah pendorong pertumbuhan, dan AI Agentik sudah mempercepat industri di seluruh dunia,” kata Catherine Lian, General Manager and Technology Leader, IBM ASEAN.
“Yang tidak kalah penting adalah kepercayaan pelanggan, yang merupakan aset utama bisnis karena transparansi memberikan ruang bagi inovasi. Kami di IBM akan terus mengembangkan teknologi kami untuk memberikan pengalaman pengguna yang memungkinkan pelanggan kami untuk berkembang ke tahap berikutnya dalam rantai nilai bisnis mereka,” pungkas Catherine.
