Healing Tahun Baru Jangan Sampai Anggaran Jebol, OCBC Ungkap Baru 12% Masyarakat Disiplin Finansial
Jakarta, Desember 2025 — Menjelang pergantian tahun, tren healing dan resolusi gaya hidup kembali menguat di kalangan masyarakat, khususnya anak muda. Namun di balik euforia menyambut tahun baru, data terbaru OCBC Financial Fitness Index 2025 mengungkap fakta yang patut jadi pengingat: hanya 12 persen masyarakat Indonesia yang menggunakan uang sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan sejak awal tahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian besar masyarakat, anggaran keuangan masih kerap dianggap sebatas rencana di atas kertas. Bahkan, sebanyak 82 persen responden mengaku anggaran hanya menjadi angan-angan, sementara 76 persen anak muda masih menghabiskan uang demi mengikuti gaya hidup dan tren di lingkungan sekitarnya. Meski angka ini menurun dari 80 persen pada tahun sebelumnya, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dinilai masih cukup mengakar.
Baca juga: Mayoritas Orang Indonesia Tidak Punya Tabungan, Manulife Luncurkan MDWA
Di sisi lain, OCBC mencatat adanya sinyal positif dalam pengelolaan utang. Sebanyak 93 persen masyarakat dinilai memiliki manajemen utang yang relatif baik. Namun, tantangan baru muncul seiring meningkatnya 16 persen pengguna kartu kredit yang hanya membayar tagihan minimum setiap bulan—sebuah kebiasaan yang berisiko memicu akumulasi utang dalam jangka panjang.
Di era digital yang serba cepat dan minim hambatan transaksi, pengelolaan keuangan menjadi keterampilan penting yang perlu direncanakan sejak awal tahun. Mulai dari penentuan anggaran bulanan, pengelolaan kartu kredit, hingga kebiasaan belanja yang lebih sadar dan terkontrol.
Agar rencana healing dan gaya hidup di tahun baru tetap sejalan dengan kondisi finansial, OCBC membagikan tiga langkah sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Pertama, menetapkan anggaran yang jelas, termasuk batas penggunaan kartu kredit—idealnya tidak lebih dari 15 persen dari penghasilan bersih bulanan. Ketika batas tersebut tercapai, penggunaan kartu kredit perlu dihentikan hingga siklus berikutnya.
Kedua mengurangi frictionless spending, atau kebiasaan belanja impulsif akibat kemudahan transaksi digital seperti one click checkout, tap-to-pay, dan QR. Untuk mengatasinya, masyarakat disarankan mencabut kartu dari dompet digital, mematikan fitur pembayaran instan, serta menyimpan kartu di tempat terpisah agar setiap transaksi menjadi keputusan yang lebih sadar.
Baca juga: BRI-MI Siap Hadirkan ETF Emas Pertama di Indonesia
Ketiga membangun sistem “bayar dulu, baru belanja”. Caranya dengan menyediakan rekening khusus untuk membayar tagihan kartu kredit. Setiap transaksi yang dilakukan langsung diikuti dengan penyisihan dana atau pembayaran sebagian tagihan, sehingga beban tidak menumpuk di akhir periode.
OCBC menegaskan, bahwa healing dan menikmati hidup tetap penting, namun perlu diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang. Dengan kebiasaan finansial yang lebih sehat, masyarakat diharapkan dapat menjalani tahun baru dengan lebih tenang, nyaman, dan tetap #FUNanciallyFIT—hidup tetap menyenangkan, finansial tetap terkendali.
