Adopsi AI dan Cloud Meningkat, Namun Infrastruktur Perusahaan Masih Tertinggal
Jakarta, 2 Januari 2026 — Adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan layanan cloud di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Berbagai sektor industri kini mulai memanfaatkan AI untuk mendongkrak efisiensi operasional, mempercepat pengambilan keputusan, hingga menghadirkan inovasi layanan berbasis data. Di saat yang sama, penggunaan cloud kian masif seiring kebutuhan bisnis akan sistem yang fleksibel, skalabel, dan mudah diintegrasikan.
Namun di balik tren positif tersebut, banyak perusahaan masih menghadapi tantangan mendasar: kesiapan infrastruktur teknologi informasi. Lonjakan adopsi AI dan cloud belum sepenuhnya diimbangi dengan fondasi infrastruktur yang kuat, terintegrasi, dan aman. Ketimpangan ini berpotensi menghambat optimalisasi teknologi sekaligus memunculkan risiko baru bagi keberlangsungan operasional bisnis.
Baca juga: Etika Berbisnis Nabi Muhammad SAW yang Patut Dicontoh
Direktur PT Nusa Network Prakarsa, Edward, menilai banyak perusahaan terlalu berfokus pada implementasi teknologi terkini tanpa memastikan kesiapan infrastruktur pendukungnya. Menurutnya, AI dan cloud bukan sekadar soal aplikasi atau platform, melainkan membutuhkan ekosistem teknologi yang matang—mulai dari jaringan, keamanan, hingga tata kelola data.
“Banyak perusahaan ingin segera mengadopsi AI dan cloud karena melihat potensi bisnisnya. Namun, fondasi infrastrukturnya sering kali belum siap. Jaringan belum terintegrasi dengan baik, sistem keamanan masih terfragmentasi, dan data tersebar di berbagai platform,” ujar Edward dalam keterangan tertulis.
Ia menegaskan, penerapan AI dan cloud tidak bisa dilakukan secara instan. Perusahaan perlu membangun infrastruktur teknologi secara bertahap dan terencana. Infrastruktur jaringan yang andal, arsitektur sistem yang tepat, serta keamanan siber yang kuat menjadi elemen krusial agar teknologi dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Selain itu, integrasi data menjadi tantangan utama lainnya. AI sangat bergantung pada kualitas dan konsistensi data. Jika data masih tersimpan dalam silo atau dikelola dengan standar yang berbeda, maka analisis dan automasi yang dihasilkan tidak akan maksimal. “Tanpa integrasi data yang baik, AI justru berpotensi menghasilkan insight keliru dan berdampak pada keputusan bisnis,” tambah Edward.
Kondisi ini masih kerap ditemui di berbagai industri, mulai dari manufaktur, properti, hingga sektor jasa. Banyak perusahaan mengembangkan sistem secara parsial mengikuti kebutuhan bisnis, namun belum dirancang sebagai satu ekosistem yang saling terhubung. Akibatnya, ketika AI dan cloud diterapkan, berbagai kendala teknis dan operasional pun bermunculan.
Baca juga: Kedaulatan AI Menjadi Kunci Masa Depan Digital
Sebagai perusahaan system integrator, PT Nusa Network Prakarsa (NNP) melihat tantangan ini sebagai peluang untuk membantu perusahaan memperkuat fondasi digitalnya. Nusa Network Prakarsa menyediakan solusi end-to-end, mulai dari network infrastructure, security infrastructure, data center, cloud integration, hingga managed services. Pendekatan menyeluruh ini ditujukan untuk memastikan setiap teknologi berjalan di atas infrastruktur yang stabil, aman, dan siap berkembang.
Edward menekankan, transformasi digital idealnya dimulai dari perencanaan arsitektur teknologi yang matang. “AI dan cloud akan memberikan nilai maksimal jika didukung desain infrastruktur yang tepat sejak awal. Mulai dari jaringan, keamanan, hingga integrasi sistem harus dirancang sebagai satu kesatuan,” jelasnya.
Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade, NNP berkomitmen menjadi mitra strategis bagi perusahaan dalam membangun dan mengelola infrastruktur teknologi yang siap menghadapi era AI dan cloud. Dengan pendekatan konsultatif dan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, transformasi digital dapat dijalankan secara lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.
