Good Bye Diskon Murah: E-Commerce Indonesia Masuk Fase Confident Commerce
Jakarta, 19 Januari 2026 – E-commerce Indonesia memasuki babak baru. Tahun 2026 menandai pergeseran penting: konsumen tak lagi menjadikan diskon sebagai alasan utama berbelanja. Harga murah masih relevan, tetapi tidak lagi cukup. Kepercayaan, kualitas, dan relevansi dengan fase hidup kini menjadi penentu.
Lazada menyebut fase ini sebagai confident commerce—kondisi ketika konsumen berani membeli produk bernilai tinggi karena merasa aman terhadap keaslian produk, layanan, dan pengalaman berbelanja secara menyeluruh. Di pasar yang semakin matang, kepercayaan berubah dari sekadar nilai tambah menjadi mesin pertumbuhan.
Baca juga: Industri E-Commerce Hadapi Fragmentasi Digital 2026
Proyeksi e-Conomy SEA memperkirakan nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai sekitar US$140 miliar pada 2030. Namun, pertumbuhan ke depan tidak lagi ditentukan oleh volume transaksi semata, melainkan oleh kualitas keputusan belanja. Konsumen kini lebih terencana, lebih rasional, dan lebih sadar nilai jangka panjang.
Pertama, trust naik kelas menjadi fondasi utama.
Nilai produk tidak lagi diukur dari harga terendah, melainkan dari kombinasi keaslian, daya tahan, dan rasa aman. Keluarga muda dan konsumen aspirasional semakin nyaman membeli elektronik, produk kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga bernilai tinggi secara online—selama risikonya terkendali.
Kedua, belanja mengikuti fase kehidupan.
E-commerce bertransformasi menjadi alat life upgrade. Konsumen memanfaatkannya untuk mendukung transisi hidup: membangun keluarga, merenovasi hunian, hingga menjalani gaya hidup lebih sehat. Produk yang berkaitan dengan kualitas hidup—furnitur, elektronik, otomotif, kesehatan—menjadi motor pertumbuhan baru.
Ketiga, premiumisasi berbasis nilai, bukan gengsi.
Produk premium tidak lagi identik dengan mahal. Konsumen bersedia “berinvestasi” pada kualitas yang berdampak langsung pada pengalaman jangka panjang. Skema cicilan, voucher, dan program loyalitas menjembatani aspirasi dan daya beli, mendefinisikan ulang makna keterjangkauan.
Keempat, membership menggantikan diskon instan.
Promosi jangka pendek mulai kehilangan daya dorong. Model keanggotaan berjenjang menciptakan hubungan jangka panjang: konsumen terdorong loyal, brand memperoleh permintaan lebih stabil, dan platform membangun ekosistem yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: 5 Kebiasaan Sederhana Menuju Finansial yang Lebih Stabil
Kelima, kreator menjadi infrastruktur kepercayaan.
Di tengah banjir pilihan, ulasan autentik dari kreator dan afiliator berfungsi sebagai filter kepercayaan. Mereka bukan sekadar alat pemasaran, melainkan jembatan edukasi yang menerjemahkan produk menjadi solusi nyata bagi konsumen.
Arah e-commerce Indonesia kian jelas. Persaingan tidak lagi soal siapa paling murah, melainkan siapa paling dipercaya. Di era confident commerce, platform yang mampu membantu konsumen mengambil keputusan lebih cerdas—bukan impulsif—akan menjadi pemenang.
CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera menyatakan, bahwa industri eCommerce kini telah beranjak dari sekadar penyedia akses pasar menjadi model bisnis yang mengutamakan kualitas.
“Dengan semakin matangnya perilaku belanja konsumen, fokus eCommerce kini adalah membangun kepercayaan diri pelanggan. Ketika rasa percaya terhadap keaslian produk dan kualitas jangka panjang sudah terbentuk, konsumen secara alami akan berbelanja dalam jumlah lebih besar, bahkan membeli produk yang lebih bernilai. Dengan demikian, eCommerce bertransformasi dari sekadar tempat transaksi, menjadi infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan brand,” ujarnya.
