Ketimbang Nambang Timah Pria ini Lebih Pilih Usaha Madu
Jakarta, 19 Januari 2026 – Kisah Madu Pelawan dari Desa Namang, Bangka Tengah, menjadi contoh konkret bahwa perlindungan lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi desa. Dengan dukungan Indonesia Eximbank, produk madu berbasis hutan lestari ini kini menapaki pasar global, membuktikan bahwa nilai ekonomi jangka panjang tidak selalu lahir dari eksploitasi sumber daya.
Tokoh penggerak di balik inisiatif ini adalah Muhammad Zaiwan, Kepala Desa Namang, yang sejak 2008 mengambil langkah berani melindungi Hutan Pelawan seluas sekitar 300 hektare melalui Peraturan Desa (Perdes). Keputusan tersebut diambil di tengah tingginya godaan ekonomi dari penambangan timah liar yang saat itu marak di wilayah Bangka.
Alih-alih membuka tambang, Zaiwan memilih mengembangkan hasil hutan bukan kayu yang berkelanjutan, salah satunya Madu Pelawan. Madu pahit khas yang dihasilkan lebah liar dari bunga Pohon Pelawan ini memiliki karakter unik—warna gelap, rasa pahit, serta kandungan nutrisi tinggi—yang membedakannya dari madu pada umumnya.
Baca juga: Satu Dekade Beroperasi, Modalku Catat Penyaluran Pendanaan Rp9,2 Triliun ke UKM
Keputusan melindungi hutan tidak selalu berjalan mulus. Kawasan Hutan Pelawan berstatus Areal Penggunaan Lahan (APL) yang secara hukum dapat dialihfungsikan. Ditambah lagi, kepercayaan lokal menyebutkan bahwa keberadaan Pohon Pelawan menandakan kandungan timah bernilai tinggi di bawahnya, sehingga tekanan untuk membuka tambang datang dari berbagai arah.
“Karena ada Perdes itu, ada yang bilang saya stres, gila, bodoh, karena menolak uang besar dari tambang timah. Tapi saya merasa sayang dengan hutan ini,” ujar Zaiwan.
Namun bagi Zaiwan, pelestarian hutan justru menjadi fondasi kesejahteraan jangka panjang. Ia mengajak masyarakat menghidupkan kembali tradisi mencari madu yang sempat ditinggalkan akibat pergeseran ekonomi ke sektor tambang. Dengan pendekatan kolektif dan berkelanjutan, Madu Pelawan perlahan berkembang menjadi komoditas bernilai tinggi.
Dukungan Indonesia Eximbank (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia/LPEI) menjadi katalis penting dalam perluasan pasar. Melalui fasilitasi keikutsertaan pada Trade Expo Indonesia 2025, Madu Pelawan diperkenalkan kepada calon pembeli internasional. Saat ini, madu grade A dipasarkan hingga Rp1,5 juta per kilogram, sementara grade B sekitar Rp750 ribu per kilogram, melibatkan 125 petani dan pencari madu di Desa Namang.
Produksi rata-rata mencapai 200 botol per bulan, dan meningkat hingga 600 botol pada momen tertentu. Pendapatan masyarakat pun mengalami peningkatan, dengan rata-rata penghasilan Rp5–6 juta per bulan per petani—angka signifikan bagi ekonomi desa.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia Eximbank terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan, pertanian berkelanjutan, hingga mitigasi perubahan iklim.
Baca juga: Banjir dan Longsor Tak Lagi Kebetulan, Ada yang Salah pada Cara Kita Mengelola Hutan
Pada 2024, Madu Pelawan juga memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM, memperkuat identitas produk sekaligus melindunginya dari pemalsuan.
Zaiwan mengapresiasi dukungan berbagai pihak, khususnya Indonesia Eximbank, yang membuka akses bagi produk desa untuk menembus pasar global.
“Kesempatan dari LPEI menjadi momentum besar bagi kami untuk membuktikan bahwa produk desa juga mampu bersaing di tingkat dunia,” ujarnya.
Kini, Madu Pelawan tidak hanya diminati wisatawan mancanegara, tetapi juga telah diekspor ke sejumlah negara. Produk turunannya, teh daun Pelawan, bahkan berhasil masuk pasar Jepang. Kisah ini menegaskan bahwa pengelolaan hutan lestari bukan penghambat pembangunan, melainkan strategi ekonomi desa yang tangguh dan berkelanjutan.
