Generasi 90-an: Generasi Paling Bahagia Sekaligus Paling Lelah

Jakarta, 19 Januari 2026 – Ada satu generasi yang hidupnya seperti jembatan, satu kaki di dunia analog, kaki lain di dunia digital. Itulah generasi 90-an. Generasi yang sering disebut paling bahagia—namun juga diam-diam paling lelah. Bahagia karena masa kecilnya sederhana.
Lelah karena masa dewasanya penuh tuntutan.

Oh iya,Generasi 90-an tumbuh tanpa notifikasi. Hiburan utama bukan layar, melainkan halaman rumah, lapangan kosong, sawah, rawa, gang sempit, atau tanah lapang yang garis lapangannya digambar pakai sandal.

Main bola sampai kaki hitam oleh debu. Nge-bolang tanpa tujuan jelas. Petak umpet, bentengan, kelereng, layangan—bahkan main malam di bawah lampu jalan yang temaram. Pulang bukan karena bosan, tapi karena dipanggil orang tua atau karena lampu jalan sudah menyala.

Games elektronik memang ada, tapi masih terbatas. Nintendo, dingdong, atau PlayStation generasi awal hanya dinikmati segelintir orang. Mayoritas tetap bermain di luar—tertawa langsung, bertengkar langsung, berdamai langsung. Mereka bergaul tanpa prasangka: “kamu orang kaya saya orang miskin. Saya orang Islam, kamu orang Kristen”

Di fase ini, generasi 90-an sering disebut sebagai generasi yang paling “hidup”. Tidak selalu ideal sih, tapi nyata.

Generasi yang Menyaksikan Teknologi Bertumbuh

Keistimewaan lain generasi 90-an: mereka tidak lahir di dunia digital, tapi tumbuh bersamanya. Mereka pernah mengenal dan merasakan langsung:

  • Telepon umum dengan koin
  • Telepon umum pakai kartu yang sering nyangkut
  • Pager dengan pesan satu arah
  • Handphone awal yang hanya untuk nelpon dan SMS
  • Warnet dengan koneksi yang menguji kesabaran
  • Hingga kini: smartphone, media sosial, belanja online, dan kecerdasan buatan

Teknologi bagi generasi 90-an bukan sesuatu yang taken for granted. Mereka tahu rasanya hidup tanpa Google, tanpa GPS, tanpa chat instan. Mereka sering tersesat—dan tak malu-malu untuk bertanya. Kemana-mana sering berhimpitan dalam bus kota, dan kadang sering tidak bayar.

Karena itu, generasi ini sering disebut paling adaptif. Bisa analog, bisa digital. Bisa kerja pakai intuisi, bisa pakai data. Bisa ngobrol langsung, bisa rapat daring. Tapi masalahnya adaptif itu melelahkan

Multitasking Tanpa Apresiasi

Dalam dunia kerja, generasi 90-an tidak hanya diminta bekerja. Mereka diminta terus belajar seiring perkembangan teknologi digital. Di satu sisi, mereka harus bersaing dengan generasi yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi. Di sisi lain, mereka sering jadi generasi penyangga: masih dituntut loyal, tahan banting, dan “nggak banyak drama”—tapi juga harus cepat, kreatif, dan selalu update. Gokil gak sih. Njirr…..kata anak sekarang.

Karena itu tidak mengherankan jika generasi 90 kerap dituntut untuk:

  • Belajar tools baru di luar jam kerja
  • Diminta multitasking karena dianggap berpengalaman
  • Harus cepat, tapi tidak boleh salah
  • Harus adaptif, tapi tetap stabil

Kelelahan ini jarang terlihat. Mereka dianggap sudah kuat. Padahal, kuat bukan berarti tidak capek. Jika generasi sebelumnya bisa bertahan dengan satu keahlian seumur hidup, generasi 90-an hidup di era ketika skill punya masa kedaluwarsa.

Mereka harus terus belajar agar relevan, tapi juga harus realistis: ada tanggung jawab, keluarga, dan kehidupan yang tidak bisa dijeda. Terlalu tua untuk dianggap “fresh”, terlalu muda untuk benar-benar mapan. Di situlah letak lelahnya.

Bahagia dan Lelah, Dua Hal yang Beriringan

Paradoks generasi 90-an ada di sini: mereka bahagia karena pernah hidup pelan, tapi lelah karena kini hidup terlalu cepat. Mereka tahu rasanya menunggu, kini dituntut serba instan.
Mereka tahu nikmatnya diam, kini dituntut selalu responsif.

Namun dari situ pula lahir ketahanan. Mereka pernah bosan—dan bertahan. Pernah gagal—tanpa tutorial. Pernah bingung—tanpa forum daring. Tidak sempurna, tapi lentur.

Pendek kata,Generasi 90-an mungkin bukan yang paling hebat. Tapi mereka salah satu yang paling teruji. Teruji oleh perubahan, oleh transisi, oleh tuntutan yang datang tanpa jeda.

Jika hari ini mereka terlihat lelah, itu bukan karena lemah. Tapi karena terlalu lama berdiri di tengah—menjaga keseimbangan antara masa lalu yang manusiawi dan masa depan yang serba mesin. Dan mungkin, di sela kelelahan itu, mereka masih merindukan satu hal sederhana:
bermain sebentar di luar atau sekadar bernostalgia, tanpa notifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *