Dari Minuman Tradisional hingga Agrowisata, Cerita Pendampingan UMKM Lokal

Jakarta, 21 Januari 2026 – UMKM kerap disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Namun di balik label tersebut, tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil sering kali nyata dan berlapis: keterbatasan kapasitas, operasional yang rentan, hingga akses pengembangan yang tidak selalu merata.

Melalui program #UsahaBarengAdaKami, perusahaan fintech lending AdaKami memberikan dukungan kepada delapan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai sektor dan latar belakang di sejumlah daerah sepanjang 2025. Program ini menjangkau pelaku usaha dari kelompok rentan hingga UMKM berbasis lingkungan dan budaya.

Brand Manager AdaKami, Jonathan Kriss, menyampaikan bahwa UMKM masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional, namun kerap menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan dan menjaga keberlanjutan usaha.

Baca juga: Ketimbang Nambang Timah Pria ini Lebih Pilih Usaha Madu

“Melalui program #UsahaBarengAdaKami, kami ingin mendampingi UMKM sesuai kebutuhan masing-masing, bukan sekadar memberikan akses permodalan, tetapi juga mendorong keberlanjutan usaha dan dampak sosial di komunitas mereka.”

Pendampingan dalam program ini dilakukan melalui dukungan yang disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan tiap usaha, dengan fokus pada penguatan kapasitas, kelancaran operasional, serta keberlanjutan bisnis agar UMKM dapat tumbuh bersama komunitas di sekitarnya.

Pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada akses permodalan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing usaha—mulai dari penguatan operasional, peningkatan kapasitas produksi, hingga efisiensi proses bisnis. Setiap UMKM membawa konteks berbeda, tetapi bertemu pada satu benang merah: bagaimana usaha kecil bisa tumbuh tanpa meninggalkan nilai inklusi, budaya, dan lingkungan.

Di sektor kuliner dan kopi, pendekatan inklusif menjadi sorotan. Di Jakarta Selatan, Kopi Tuli dan Akurasa mengembangkan usaha kopi yang membuka ruang kerja bagi penyandang tuna rungu. Pendampingan difokuskan pada penguatan operasional harian dan pengembangan layanan agar misi sosial dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan usaha.

Di Yogyakarta, Kopi Moka Menoreh dan Kopi Selarong mengusung kopi sebagai medium pelestarian budaya lokal. Dukungan yang diberikan dimanfaatkan untuk memperkuat proses produksi dan penyajian, seiring upaya meningkatkan daya saing kopi lokal di pasar yang lebih luas.

Aspek inklusivitas juga tercermin pada Difabel Zone, komunitas perajin batik difabel. Dukungan diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi serta penyediaan sarana pendukung pameran, di tengah tingginya minat kolaborasi dan kemitraan.

“Permintaan pameran dan kerja sama cukup tinggi, tetapi sarana kami terbatas. Dukungan ini membantu kami menjawab kebutuhan tersebut,” ujar pendiri Difabel Zone, Lidwina Wurie Akhdiyanti.

Dari Sumatra Barat, House of Kawa di Tanah Datar menjaga tradisi minuman khas Minangkabau yang diwariskan lintas generasi. Pendampingan dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pengolahan, sehingga proses produksi dapat berjalan lebih konsisten tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.

Sementara itu, isu lingkungan menjadi fokus di Bali. Urban Compost mengelola sampah organik berbasis komunitas, dengan tantangan utama pada efisiensi tenaga dan waktu. Dukungan program membantu memperlancar proses pengolahan agar upaya pelestarian lingkungan tetap berkelanjutan.

Baca juga: Grab Tutup GVV Batch 8, Lima Startup Hijau Uji Solusi Berkelanjutan di Ekosistem Digital

“Pengolahan sampah organik bukan proses instan. Dukungan ini membantu kami meningkatkan efisiensi dan memastikan upaya pelestarian lingkungan dapat terus berjalan,” kata Buya Azmedia, pendiri Urban Compost Bali.

Masih di Bali, Pisangne K-Tamane mendapat pendampingan untuk memperkuat kapasitas usaha agrowisata yang memberdayakan petani perempuan, khususnya melalui peningkatan kualitas produksi dan pengelolaan usaha.

Delapan UMKM ini memperlihatkan wajah ekonomi lokal yang beragam—dari tradisi, inklusi, hingga keberlanjutan lingkungan. Tantangan mereka berbeda, tetapi tujuannya sama: membangun usaha yang tidak hanya bertahan, melainkan juga memberi dampak nyata bagi komunitas di sekitarnya.