Anak Tampak Sehat, Tapi Bisa Kurang Gizi: Fenomena Hidden Hunger yang Sering Diabaikan Orang Tua
Jakarta,23 Januari 2026 — Banyak orang tua merasa lega ketika anaknya terlihat aktif, ceria, dan jarang sakit. Namun, di balik tampilan luar yang tampak sehat itu, bisa tersembunyi masalah serius bernama hidden hunger—kondisi kekurangan zat gizi mikro yang kerap luput dari perhatian.
Dokter Gizi Klinik Primaya Hospital Tangerang, dr. Monique Carolina Widjaja, M.Gizi, Sp.GK, mengingatkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan triple burden of malnutrition: stunting, obesitas, dan defisiensi mikronutrien. Ironisnya, persoalan gizi ini bisa terjadi bersamaan, bahkan pada anak yang berat badannya terlihat normal.
Baca juga: Food Genomics: Pola Makan Berbasis DNA, Apa Lagi Nih?
“Banyak orang tua masih fokus pada rasa kenyang, bukan kualitas gizi. Anak mungkin kenyang, tapi kekurangan zat penting seperti zat besi, zinc, dan vitamin D,” ujar dr. Monique.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 memang menunjukkan penurunan angka stunting menjadi 19,8 persen, dari 21,5 persen pada 2023. Namun, tren ini tidak otomatis berarti persoalan gizi anak selesai. Justru, masalah gizi tersembunyi semakin menguat, seiring perubahan pola makan keluarga urban.
Salah satu pemicunya adalah meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses ((ultra processed food/UPF))—mulai dari nugget, sosis, sereal manis, hingga camilan kemasan. Makanan tersebut memang praktis dan disukai anak, tetapi minim kualitas gizi.
“Makanan ultra-proses bisa mengacaukan sinyal lapar dan kenyang alami, memicu obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak dini,” jelas dr. Monique.
Yang membuat hidden hunger berbahaya adalah gejalanya yang tidak selalu kasat mata. Anak bisa tetap tampak aktif, padahal tubuhnya kekurangan zat gizi penting. Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain anak mudah lelah, sulit berkonsentrasi, sering sariawan, rambut mudah rontok, hingga daya tahan tubuh yang rendah.
“Gejala-gejala ini sering dianggap wajar sebagai bagian dari tumbuh kembang, padahal bisa menjadi alarm awal malnutrisi,” tambahnya.
Baca juga: Makan Sehat Nggak Ribet, Kebiasaan Kecil ini Bikin Badan Lebih Enak
Karena itu, skrining gizi rutin menjadi kunci, bahkan untuk anak yang terlihat sehat. Pemeriksaan ini meliputi pengukuran pertumbuhan, evaluasi pola makan, pemeriksaan fisik, hingga tes laboratorium bila diperlukan. Tujuannya bukan sekadar mencegah stunting, tetapi juga menekan risiko obesitas dan penyakit tidak menular di masa depan.
“Nutrisi anak tidak boleh ditunda. Apa yang masuk ke piring anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saingnya kelak. Skrining gizi idealnya diperlakukan sama pentingnya dengan imunisasi,” tutup dr. Moniqu
