Orang Luar Jawa Makin Gandrung Belanja
Jakarta, 28 Januari 2026 — Aktivitas belanja masyarakat Indonesia kian bergerak ke luar pusat-pusat kota besar. Memasuki 2026, pertumbuhan konsumsi tidak lagi bertumpu pada wilayah Jawa semata. Sepanjang 2025, tren belanja justru menunjukkan pola yang semakin merata, dengan wilayah tier 2 dan tier 3—termasuk di luar Jawa—mencatat peningkatan yang konsisten.
Fenomena ini sejalan dengan ekspansi jaringan ritel modern. MR.D.I.Y. Indonesia, misalnya, membuka lebih dari 270 toko baru sepanjang 2025, dengan pencapaian simbolik berupa pembukaan toko ke-1.200 di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ekspansi tersebut memberi gambaran bahwa daya beli dan kebutuhan rumah tangga di daerah kini semakin diperhitungkan.
Di luar kota-kota besar, kebutuhan perlengkapan rumah tangga tetap menjadi motor utama belanja. Permintaannya relatif seragam lintas wilayah—menunjukkan bahwa keluarga Indonesia, terlepas dari lokasi geografis, memiliki kebutuhan yang semakin mirip: produk yang fungsional, relevan, dan bernilai guna tinggi.
Baca juga: Tren Belanja Online Ramadan: Transaksi Melonjak 115%, Fashion hingga FMCG Jadi Andalan
Presiden Direktur MR.D.I.Y. Indonesia, Edwin Cheah, melihat pemerataan ini sebagai sinyal positif bagi lanskap ritel nasional.
“Permintaan yang semakin merata menunjukkan bahwa ekspektasi konsumen terhadap produk rumah tangga kini makin serupa di berbagai daerah. Melalui perluasan jaringan toko, kami ingin memastikan akses terhadap produk yang fungsional dan terjangkau bisa dirasakan keluarga Indonesia di mana pun mereka berada,” ujarnya.
Belanja Tak Lagi Impulsif, tapi Terencana
Selain faktor wilayah, perubahan juga terlihat dari cara masyarakat berbelanja. Sepanjang 2025, konsumen dinilai semakin selektif. Harga tetap penting, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan. Fungsi, fleksibilitas, dan manfaat jangka panjang kini ikut menentukan keputusan pembelian.
Pola ini tercermin dari produk-produk yang paling sering masuk keranjang belanja. Barang-barang berukuran kecil, multifungsi, dan relevan dengan kebutuhan harian mendominasi, mulai dari dispenser sabun, payung lipat otomatis, hingga jepit rambut. Produk seperti meja lipat juga banyak diminati karena bisa beradaptasi dengan ruang terbatas—baik sebagai meja belajar, kerja, maupun kebutuhan rumah tangga lainnya.
Menariknya, di tengah dominasi produk fungsional, item bernuansa emosional seperti boneka karakter eksklusif juga tetap memiliki tempat. Ini menunjukkan bahwa konsumen tidak sepenuhnya meninggalkan aspek emosional dalam belanja, meski prioritas utama tetap pada kebutuhan.
Menyambut Ramadan yang Lebih Bijak
Memasuki periode Ramadan, MR.D.I.Y. Indonesia memproyeksikan aktivitas belanja tetap meningkat, terutama untuk kebutuhan dapur dan perlengkapan rumah tangga penunjang momen kebersamaan keluarga. Namun, peningkatan ini diperkirakan berlangsung lebih terencana.
Baca juga: Jam Sahur Jadi “Tambang Emas” Iklan Ramadan: Trafik Digital Naik 87%
Belanja cenderung dilakukan lebih awal, dengan konsumen memanfaatkan promosi bernilai tanpa menunggu momentum musiman tertentu. Pola ini mencerminkan kehati-hatian masyarakat dalam menjaga daya beli di tengah kondisi ekonomi yang masih dinamis.
“Kami melihat konsumen semakin bijak. Mereka tetap berbelanja, tetapi dengan pertimbangan fungsi dan efisiensi. Harga yang terjangkau membantu mereka mengatur anggaran agar tetap bisa memenuhi kebutuhan primer lainnya,” kata Edwin.
Ke depan, pola konsumsi di Indonesia diperkirakan akan terus bergerak ke arah kebutuhan esensial dan penggunaan jangka panjang. Dan yang paling menarik, cerita belanja ini tak lagi hanya milik kota besar di Jawa—tetapi juga daerah-daerah yang kini semakin percaya diri sebagai penggerak ekonomi domestik.
