Industri Kesehatan 2026 Makin Selektif, BMHS Fokus pada Layanan dan Keselamatan Pasien

Jakarta, 28 Januari 2026 — Memasuki 2026, industri kesehatan Indonesia bergerak ke fase yang lebih matang dan selektif. Pertumbuhan tetap terjadi, namun tidak lagi ditopang semata oleh ekspansi agresif atau lonjakan volume pasien. Kualitas layanan, keselamatan pasien, dan keberlanjutan jangka panjang kini menjadi faktor penentu daya saing penyedia layanan kesehatan.

Arah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus memperkuat sektor kesehatan melalui peningkatan alokasi anggaran dalam APBN 2026. Dukungan terhadap Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), program cek kesehatan gratis, revitalisasi fasilitas layanan, hingga penanganan isu kesehatan prioritas diharapkan memperluas akses masyarakat sekaligus mendorong kesiapan penyedia layanan dalam ekosistem kesehatan yang semakin terintegrasi.

Baca juga: 6 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Merusak Mata

Di sisi lain, perubahan demografi mempertegas pergeseran kebutuhan layanan. Pertumbuhan keluarga muda perkotaan, meningkatnya prevalensi penyakit kronis, serta bertambahnya kelompok usia lanjut mendorong pola layanan berbasis siklus hidup—mulai dari layanan ibu dan anak hingga penanganan medis kompleks di tahap lanjut kehidupan. Kondisi ini menuntut rumah sakit untuk tidak sekadar menambah kapasitas, tetapi membangun sistem layanan yang konsisten, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang.

President Director PT Bundamedik Tbk (BMHS), Agus Heru Darjono, menilai fase selektif ini sebagai momentum untuk memperkuat fondasi layanan.

“Seiring industri kesehatan memasuki fase yang semakin matang, diferensiasi tidak lagi ditentukan oleh kecepatan ekspansi, melainkan oleh konsistensi dalam menjaga mutu layanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan,” ujarnya.

Merespons dinamika tersebut, BMHS menempatkan pengembangan layanan medis kompleks sebagai salah satu fokus strategis. Sepanjang 2025, BMHS menghadirkan berbagai layanan tingkat lanjut, mulai dari transplantasi ginjal hingga Robotic Skin Sparing Mastectomy pertama di Asia Tenggara.

Langkah ini memperkuat posisi BMHS sebagai penyedia layanan yang mampu menjawab kebutuhan medis dengan tingkat kompleksitas tinggi di dalam negeri.

“Meningkatnya kompleksitas kebutuhan medis menuntut rumah sakit untuk benar-benar naik kelas, tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga kesiapan sistem dan kedalaman keahlian klinis. Kami membangun kapabilitas ini secara bertahap agar masyarakat memiliki pilihan layanan yang aman dan dapat diandalkan di Indonesia,” kata Agus.

Di tengah tuntutan investasi dan peningkatan biaya operasional, keberlanjutan menjadi tantangan tersendiri bagi industri kesehatan. BMHS memilih pendekatan pertumbuhan yang lebih terukur dengan mengoptimalkan aset eksisting, termasuk penambahan kapasitas tempat tidur secara bertahap hingga 2027, tanpa mengorbankan standar mutu layanan dan keselamatan pasien.

“Kami melihat 2026 sebagai momentum untuk mengonsolidasikan pertumbuhan yang sehat. Fokus kami adalah memastikan setiap langkah pengembangan memberikan nilai tambah jangka panjang, baik bagi pasien maupun perusahaan,” lanjut Agus.

BMHS optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan double digit pada 2026 dengan tetap menjaga profitabilitas dan arus kas yang sehat.

Baca juga: Laba Bersih Rumah Sakit ini Meroket 950%, Apa Resepnya?

Sebagai bagian dari pendekatan layanan berkelanjutan, BMHS tetap memperkuat layanan ibu dan anak sebagai fondasi continuity of care. Fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSIA Bunda Jakarta, misalnya, secara konsisten melayani sekitar 250–300 bayi berisiko tinggi setiap tahun, mencerminkan peran layanan awal kehidupan sebagai basis kepercayaan jangka panjang.

Ke depan, BMHS memandang transformasi industri kesehatan perlu ditopang oleh riset, praktik berbasis bukti, serta tata kelola dan perlindungan data yang solid. “Di tengah industri yang semakin selektif, kualitas layanan, inovasi, dan integrasi ekosistem menjadi fondasi utama keberlanjutan jangka panjang perusahaan,” tutup Agus.