Sisa Kuota Tak Lagi Mubazir: SIMPATI Hadirkan Akumulasi Kuota
Jakarta, 30 Januari 2026 — Selama bertahun-tahun, sisa kuota internet kerap menjadi paradoks kecil dalam kehidupan digital: dibeli penuh, dipakai setengah, lalu hangus tanpa jejak. Telkomsel mencoba mengubah kebiasaan ini lewat fitur Akumulasi Kuota pada brand prabayar SIMPATI, memungkinkan sisa kuota utama dibawa ke bulan berikutnya selama pelanggan memperpanjang paket tepat waktu.
Fitur ini resmi menjadi bagian dari evolusi SIMPATI sejak 26 Mei 2025. Bagi pelanggan, terutama mereka dengan pola pemakaian fluktuatif—kadang padat, kadang longgar—akumulasi kuota menawarkan rasa keadilan baru dalam berinternet. Kuota tak lagi terasa seperti “tenggat”, melainkan aset yang bisa dikelola.
Baca juga: AI Bukan Jalan Pintas, Pengguna Dituntut Tetap Berpikir
VP SIMPATI Product Marketing Telkomsel, Adhi Putranto, menyebut inovasi ini lahir dari kebiasaan pelanggan itu sendiri. “Kami ingin paket data benar-benar memberi nilai. Dengan akumulasi kuota, pelanggan punya kontrol: memilih paket yang fleksibel atau opsi non-akumulasi yang lebih hemat,” ujarnya.
Seluruh paket bulanan SIMPATI #TerbaikUntukmu—mulai dari 3 GB, 8 GB, hingga 13 GB dengan masa aktif 30 hari—sudah mendukung akumulasi kuota. Menariknya, paket ini juga disertai kebebasan memilih digital lifestyle benefit, mulai dari hiburan, musik, gim, edukasi, belanja, hingga proteksi. Sebuah pendekatan yang menempatkan internet bukan sekadar koneksi, tetapi bagian dari gaya hidup digital.
Di sisi lain, Telkomsel tetap mempertahankan diferensiasi. Bagi pelanggan yang lebih sensitif harga, tersedia paket non-akumulasi seperti Super Seru, Internet Sakti, Combo Sakti, hingga Paket Serbu harian—opsi cepat dan terjangkau bagi mereka yang hanya butuh koneksi sesekali.
Baca juga: Lima Kebiasaan Keuangan yang Masih Membebani Orang Indonesia di 2026
Dari sisi mekanisme, akumulasi kuota dirancang sederhana: sisa kuota otomatis terbawa saat paket diperpanjang sebelum masa aktif berakhir, tanpa batas maksimum maupun masa simpan. Kuota lama dan baru pun menyatu, menghilangkan kebingungan yang kerap muncul pada skema paket bertingkat.
Dalam konteks Indonesia—di mana literasi digital dan daya beli masih beragam—fitur ini bisa dibaca sebagai upaya membuat konsumsi data lebih rasional. Bukan menambah kuota semata, melainkan mengurangi rasa “terbuang”. Di tengah ekonomi digital yang menuntut efisiensi, pendekatan seperti ini terasa relevan.
