AI Boleh Canggih, Tapi Arah Organisasi Tetap Ditentukan Manusia

Jakarta, 2 Februari 2026 — Di tengah laju adopsi kecerdasan buatan (AI) yang kian agresif, persoalan terbesar organisasi ternyata bukan soal teknologi, melainkan manusia. Kesenjangan persepsi antara pimpinan dan staf menjadi alarm serius: ketika pimpinan merasa transformasi AI berjalan efektif, sebagian besar karyawan justru merasa sebaliknya.

Data Dale Carnegie menunjukkan, 54,2% pimpinan menilai integrasi AI sudah efektif atau transformatif, sementara hanya 11,2% staf yang merasakan hal serupa.

Memasuki usia 50 tahun di Indonesia, Dale Carnegie mengingatkan bahwa transformasi digital tanpa kepemimpinan yang membumi berisiko melahirkan kebingungan, kelelahan, dan erosi kepercayaan. Lewat forum Take Command: Leading People Transformation in the Age of AI, Dale Carnegie menegaskan ulang satu pesan kunci: AI boleh canggih, tapi arah organisasi tetap ditentukan manusia.

Baca juga: AI Bukan Jalan Pintas, Pengguna Dituntut Tetap Berpikir

Laporan State of Organizational Health 2025 memperlihatkan paradoks global. Hanya 42% organisasi yang memiliki budaya komunikasi kuat, sementara empati mendalam dan psychological safety masih menjadi kemewahan—masing-masing baru dirasakan oleh 17% dan 15% responden. Di Asia Pasifik, situasinya bahkan lebih rapuh: tingkat empati dan rasa aman psikologis masih berada di tahap awal, berbanding lurus dengan rendahnya keterlibatan karyawan.

President & CEO Dale Carnegie Global, Joe Hart, menegaskan bahwa justru di era AI, kepemimpinan manusiawi menjadi penentu. Teknologi bisa mempercepat proses, tetapi manusialah yang memberi makna pada keputusan, membangun kepercayaan, dan menjaga arah organisasi tetap waras.

Kondisi ini terasa relevan di Indonesia. Menurut President Director Dale Carnegie Indonesia, Paul J. Siregar, percepatan adopsi AI belum selalu diiringi kesiapan komunikasi dan empati di level tim. Tanpa kepemimpinan yang sadar dan konsisten, transformasi berisiko berhenti sebagai proyek—bukan perubahan nyata.

“Kami melihat bahwa adopsi teknologi dan AI di Indonesia berlangsung sangat cepat. Namun tantangan kepemimpinan justru muncul pada aspek komunikasi, empati, dan rasa aman psikologis di dalam tim. Temuan Dale Carnegie di Asia Pacific memperkuat keyakinan kami bahwa transformasi hanya akan berdampak ketika pemimpin mampu memimpin manusia secara sadar, konsisten, dan membumi,” jelas Paul.

Baca juga: 5 Keterampilan Teknologi Esensial untuk Generasi Muda Hadapi Dunia Kerja 2026

Sebagai respons, Dale Carnegie memperkenalkan kerangka Take Command, yang menempatkan kepemimpinan bukan sebagai pengendali teknologi, melainkan penjaga arah. Tiga pilarnya—Mindset, Relationships, dan Future—menegaskan bahwa kepemimpinan di era AI adalah soal keberanian memimpin manusia, bukan sekadar mengelola mesin.

Selama lima dekade di Indonesia, Dale Carnegie telah mendampingi lebih dari 300 ribu pemimpin lintas industri. Di usia emasnya, pesan yang dibawa tetap sederhana namun mendesak: masa depan organisasi tidak ditentukan oleh seberapa cepat AI diadopsi, melainkan seberapa manusia para pemimpinnya.