Kejahatan di Dunia Saham: Halus, Rapi, Tapi Merugikan
Jakarta, 3 Februari 2026 – Dunia saham sering dibayangkan sebagai ruang rasional dengan tampilan angka, grafik, dan laporan keuangan. Tapi di balik layar, ada praktik-praktik tidak terpuji yang membuat pasar jadi tidak adil—terutama bagi investor ritel. Kejahatan ini terlihat keren, legal-looking, dan dibungkus narasi “smart investment”. Berikut adalah beberapa praktik tidak terpuji dalam dunia investasi saham:
Insider Trading: Main dengan Informasi Rahasia
Insider trading terjadi ketika seseorang membeli atau menjual saham berdasarkan informasi penting yang belum diketahui publik. Informasi ini bisa soal akuisisi, laporan keuangan, atau masalah hukum perusahaan.
Kenapa bermasalah? Karena pasar seharusnya adil. Kalau ada yang “masuk duluan” karena info rahasia, investor lain otomatis dirugikan.
Baca juga: BCA Siapkan Buyback Saham Hingga Rp5 Triliun
Kasus Martha Stewart di Amerika Serikat awal 2000-an sering dijadikan contoh klasik. Ia menjual saham perusahaan biotek setelah mendapat bocoran buruk sebelum diumumkan ke publik.
Pump and Dump: Digoreng, Lalu Ditinggal
Praktik menaikkan harga saham secara artifisial lewat rumor, promosi berlebihan, atau narasi bombastis—lalu menjualnya saat minat publik memuncak.
Biasanya terjadi pada saham berkapitalisasi kecil dengan likuiditas terbatas.
Praktik ini populer lewat kisah Jordan Belfort, yang menggoreng saham penny stock di AS pada era 1990-an, seperti digambarkan dalam film The Wolf of Wall Street.
Churning: Transaksi Ramai, Hasil Sepi
Churning terjadi ketika investor didorong untuk terlalu sering membeli dan menjual saham, bukan demi hasil investasi, melainkan demi biaya transaksi. Regulator di berbagai negara pernah menjatuhkan sanksi kepada pialang yang membiarkan transaksi berlebihan pada nasabah ritel.
Laporan Cantik, Realita Pahit
Perusahaan atau manajer investasi menyajikan laporan keuangan yang tampak sehat, namun menyimpan risiko yang tidak langsung terlihat. Kasus Enron menunjukkan bagaimana rekayasa laporan keuangan bisa menipu pasar dalam waktu lama sebelum akhirnya runtuh.
Baca juga: Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak 33 Kali Lipat Sepanjang 2025
Berbagai praktik di atas berpotensi merugikan investor ritel dengan berbagai sebab seperti informasi datang terlambat, terlalu percaya rekomendasi popular, FOMO lebih dominan daripada analisis, dan Edukasi finansial yang belum merata.
Pasar saham bukan ruang yang sepenuhnya bersih, tapi juga bukan kasino tanpa aturan. Memahami praktik-praktik kelabu ini bukan untuk menumbuhkan paranoia, melainkan kewaspadaan.
Dalam investasi, tujuan paling realistis bukan profit dengan cepat, melainkan rugi kalah dengan cara yang bodoh. Karena di pasar saham, yang paling mahal bukan kerugian—melainkan pelajaran yang datang terlambat.
