Swasta Turun Tangan, Grab–OVO Ikut Program MBG Berbasis Teknologi
Jakarta, 11 Februari 2026 — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya menjadi urusan negara. Grab dan OVO menunjukkan bahwa sektor swasta juga bisa berperan aktif melalui pendekatan yang terukur, transparan, dan berbasis teknologi. Lewat Program MBG Swasta, Grab–OVO menghadirkan model kontribusi dunia usaha yang sepenuhnya didanai CSR dan dijalankan tanpa membebani anggaran negara.
Inisiatif ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang mendorong keterlibatan sektor swasta dalam mendukung pelaksanaan MBG sebagai salah satu program strategis nasional. Grab–OVO memposisikan program ini sebagai pelengkap upaya pemerintah, dengan fokus pada keamanan pangan, tata kelola akuntabel, serta dampak sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Berbeda dari program sosial konvensional, MBG Swasta mengandalkan Command Center berbasis teknologi untuk memantau seluruh proses penyediaan makanan secara real–time. Mulai dari dapur mitra UMKM, proses distribusi, hingga makanan diterima oleh sekolah, seluruh alur dipantau secara digital.
Baca juga: MBG dan Tantangan Gizi Anak Indonesia: Saat Makan Sehat Jadi Investasi Masa Depan
Pendekatan ini dirancang untuk menutup celah risiko yang kerap muncul dalam pengawasan manual, sekaligus memastikan standar keamanan pangan dijalankan secara konsisten.
“Bagi kami, keamanan pangan bukan sekadar standar, tapi tanggung jawab terhadap masa depan anak-anak,” ujar Tirza Munusamy, Chief of Public Affairs Grab Indonesia. “Teknologi memungkinkan kami memastikan setiap proses berjalan transparan, aman, dan bisa dipertanggungjawabkan.”
Program MBG Swasta dijalankan melalui kolaborasi lintas organisasi, melibatkan sejumlah mitra seperti PP Muhammadiyah, Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU), Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), Yayasan Benih Baik, Yayasan Astra, hingga GK Foundation. Sejumlah pejabat negara dan kepala daerah juga telah meninjau langsung pelaksanaan program ini.
Teknologi menjadi tulang punggung tata kelola program. Seluruh proses terdokumentasi secara digital, mulai dari deklarasi kesiapan mitra UMKM, audit operasional, konfirmasi distribusi, hingga umpan balik dari pihak sekolah. Data ini tidak hanya memperkuat akuntabilitas, tetapi juga menjadi dasar perbaikan berkelanjutan.
Rizal Sutono, Ketua Umum Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, menilai pendekatan ini sebagai praktik baik dalam pengelolaan program sosial berbasis kolaborasi.
“Pemanfaatan teknologi membuat program sosial lebih terukur dan konsisten, terutama dalam menjaga keamanan pangan bagi anak-anak,” ujarnya.
Baca juga: Food Genomics: Pola Makan Berbasis DNA, Apa Lagi Nih?
Selain memberi manfaat langsung bagi siswa dan guru, MBG Swasta juga melibatkan UMKM lokal sebagai mitra dapur dan kantin sekolah. Melalui pendampingan berbasis teknologi, UMKM didorong menerapkan standar kebersihan dan operasional yang lebih baik, sekaligus memperkuat kapasitas usaha mereka secara berkelanjutan.
Sejak diluncurkan pada September 2024, Program MBG Swasta telah menjangkau lebih dari 30 sekolah, termasuk sekolah khusus, dengan 4.500+ penerima manfaat, serta melibatkan 20+ mitra UMKM di 11 kota/kabupaten.
Ke depan, Grab, OVO, dan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa berkomitmen terus menyempurnakan pendekatan ini agar program Makan Bergizi Gratis tidak hanya luas jangkauannya, tetapi juga kuat dari sisi tata kelola dan keamanan pangan.
