Kita Sibuk Memoles Wajah, Padahal Hidup Berjalan dari Belakang

Jakarta, 11 Februari 2026 – Ada alasan mengapa Levi’s® memilih sisi belakang sebagai pusat cerita dalam kampanye global terbarunya. Bukan semata soal jahitan arcuate atau Red Tab™ yang ikonik, melainkan tentang cara kita menilai manusia. Kita hidup di zaman wajah—kamera depan, profil media sosial, citra yang terus dirapikan. Padahal hidup dijalani dari belakang: melangkah, meninggalkan jejak, dan bergerak tanpa pernah benar-benar tahu ke mana semua ini akan bermuara.

Lewat film “Backstory” yang tayang di panggung budaya pop terbesar dunia, Super Bowl, Levi’s® sengaja membalik sudut pandang. Wajah-wajah populer tidak dihadirkan. Yang terlihat justru punggung, langkah, dan gerak tubuh. Sebuah metafora sunyi tentang perjalanan hidup yang jarang disorot.

Baca juga: #YaKaliGakLanjut! FANTA® Fruit Punch Balik Lagi, Ramadan Jadi Alasan Nongkrong Lebih Lama

“Salah satu hal yang paling saya sukai dari kampanye ‘Behind Every Original’ adalah bagaimana kampanye ini merangkai sebuah cerita yang hanya bisa disampaikan oleh Levi’s®,” ujar Kenny Mitchell, Global Chief Marketing Officer Levi Strauss & Co. “Kami berada di pusat budaya musik, olahraga, dan fashion—dan juga di lemari pakaian lintas generasi.”

Selama lebih dari 150 tahun, jeans Levi’s® hadir bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai pakaian kerja, perlawanan, dan keseharian. Ia dikenakan para koboi, musisi, atlet, seniman, hingga orang-orang biasa yang memilih hidup di luar arus utama. Denim ini tidak diciptakan untuk dipajang, melainkan untuk dipakai—dan dari situlah orisinalitas bertumbuh.

Menariknya, film ini menampilkan figur-figur besar seperti Doechii, ROSÉ, Shai Gilgeous-Alexander, hingga Questlove, namun kamera tidak mengeksploitasi wajah mereka. Seolah Levi’s® ingin berkata: ketenaran hanyalah bagian depan, sementara cerita sejati ada di belakang—di keputusan yang tak disorot kamera, di keberanian yang tak selalu viral.

Peluncuran kampanye ini di Super Bowl pun bukan kebetulan. Bagi Levi’s®, olahraga adalah bagian dari kebudayaan kolektif yang menyatukan.

“Sangat tepat jika kampanye ini diluncurkan pada saat Super Bowl, karena Super Bowl sendiri adalah momen budaya yang menyatukan banyak orang,” kata Kenny.

Soundtrack “Get Up Offa That Thing” dari James Brown memberi energi mentah pada film ini—tentang tubuh yang bergerak karena dorongan dari dalam, bukan demi sorotan luar. Sebuah gema dari semangat para penggerak perubahan yang selalu berjalan lebih dulu, bahkan saat dunia belum siap melihat mereka.

Di tengah budaya digital hari ini, ketika orisinalitas sering diproduksi ulang, difilter, dan dikemas agar tampak unik, kampanye ini terasa seperti pengingat yang jujur. Menjadi original bukan soal tampil beda, tapi konsisten berjalan di jalur yang kita pilih, meski jalur itu tidak selalu fotogenik.

Baca juga: Jam Tangan Pintar, Data Tubuh, dan Janji Hidup Sehat

Levi’s® seolah memahami satu hal sederhana: manusia tidak hidup untuk dilihat, tapi untuk dijalani. Dan denim—dengan segala lipatan, pudar, dan bekas pakainya—menjadi arsip paling jujur dari perjalanan itu.

Di dunia yang sibuk memoles citra depan, Levi’s® justru mengajak kita menoleh ke belakang. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyadari bahwa setiap langkah selalu meninggalkan cerita. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang benar-benar original bukan wajah yang ia tampilkan, melainkan jejak yang ia tinggalkan.