Riset LPEM FEB UI: Pendanaan AdaKami Sumbang Hingga Rp10,9 Triliun ke PDB
Jakarta, 25 Februari 2026 – Riset terbaru dari LPEM FEB UI mengungkapkan bahwa penyaluran pembiayaan oleh platform pinjaman daring berizin AdaKami berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Sepanjang 2024, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diestimasi berada pada kisaran Rp6,95 triliun hingga Rp10,96 triliun.
Kontribusi tersebut lahir dari efek berganda (ripple effect) penyaluran pinjaman ke berbagai sektor ekonomi. Dampaknya tak hanya dirasakan langsung oleh peminjam, tetapi juga mengalir ke aktivitas ekonomi lokal melalui peningkatan konsumsi dan permintaan barang serta jasa produktif.
Baca juga: Dari Minuman Tradisional hingga Agrowisata, Cerita Pendampingan UMKM Lokal
185 Sektor Terdampak, Puluhan Ribu Lapangan Kerja Tercipta
Dalam periode analisis, sedikitnya 185 sektor ekonomi nasional memperoleh nilai tambah dari aktivitas ekonomi yang dipicu pendanaan AdaKami. Tiga sektor dengan dampak terbesar meliputi jasa lembaga keuangan lainnya (21,34%), jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%).
Secara agregat, nilai kontribusi tersebut setara dengan PDB negara kepulauan seperti Tonga yang pada 2024 tercatat sekitar USD 558 juta atau kurang lebih Rp9,38 triliun.
Selain mendorong pertumbuhan, riset juga mencatat penciptaan 47–78 ribu peluang kerja di 17 sektor industri. Sektor perdagangan besar dan eceran menyerap porsi terbesar (19,84%), diikuti jasa pendidikan (18,63%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11%).
Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menjelaskan bahwa pembiayaan berperan sebagai penggerak konsumsi rumah tangga—baik rutin maupun non-rutin—yang kemudian memicu aktivitas di sektor ritel, grosir, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer.
“Penyaluran pembiayaan mendorong ripple effect melalui peningkatan konsumsi rumah tangga—baik rutin maupun non-rutin—yang kemudian menggerakkan sektor ritel, grosir, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer. Dengan demikian, dukungan terhadap sektor ekonomi riil terjadi melalui penguatan permintaan barang dan jasa produktif yang memicu aktivitas ekonomi dan produksi, setidaknya dalam jangka pendek,” ucap Mohamad.
Bantalan Keuangan Rumah Tangga
Riset ini juga menyoroti peran pinjaman daring sebagai financial buffer atau bantalan keuangan. Dalam berbagai kondisi mendesak—seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau peristiwa duka—akses pembiayaan membantu rumah tangga menjaga stabilitas konsumsi (consumption smoothing).
Sebanyak 24,51% responden menyatakan bahwa tanpa akses pinjaman daring, mereka harus menggunakan tabungan atau bahkan menjual aset produktif untuk memenuhi kebutuhan. Artinya, pembiayaan formal berperan mencegah strategi bertahan hidup yang berisiko terhadap kondisi finansial jangka panjang.
Menariknya, kelompok pengguna AdaKami mencatat rata-rata pengeluaran bulanan Rp4,8 juta, dengan rata-rata tabungan hampir Rp700 ribu—lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding.
Dorong Pertumbuhan Usaha Mikro
Pendanaan juga dimanfaatkan untuk pengembangan usaha mikro dan perorangan. Sebanyak 53,1% pengguna yang memanfaatkan pinjaman untuk usaha menggunakannya untuk menambah stok barang, sementara 28,1% lainnya mencatat pertumbuhan omset.
Baca juga: Ikeu Cermin Ketangguhan UMKM Perempuan Indonesia
Sektor perdagangan menjadi penerima manfaat terbesar (53,1%), disusul penyediaan akomodasi dan makan minum (18,8%), serta pertanian (18,8%). Temuan wawancara mendalam menunjukkan pembiayaan membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan skala usaha secara bertahap.
Riset juga mencatat, 89,2% responden memahami konsep bunga, biaya, dan tenor pinjaman. Pemahaman terhadap inflasi, investasi, dan saham juga relatif baik. Ini menunjukkan literasi keuangan pengguna tergolong tinggi.
Namun demikian, studi juga menemukan potensi kerentanan perilaku seperti overconfidence dan kecenderungan berorientasi jangka pendek (present-biased). Kondisi ini dapat memengaruhi keputusan pinjaman dan meningkatkan risiko gagal bayar jika tidak diimbangi edukasi memadai.
Karena itu, penguatan literasi, transparansi informasi, fitur simulasi kemampuan bayar (self-assessment), serta pengawasan regulator dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri pinjaman daring yang prudent dan beretika.
Riset ini dilakukan pada Oktober–November 2025 terhadap 615 responden di tujuh provinsi dengan jumlah pengguna AdaKami terbesar, menggunakan pendekatan survei dan analisis Input-Output untuk mengukur dampak langsung, tidak langsung, serta efek pengganda terhadap sektor ekonomi nasional.
