Citi Soroti Transformasi Perdagangan Global di Era AI, Rantai Pasok Makin Tangguh dan Adaptif

New York, 26 Februari 2026 — Transformasi perdagangan global kini memasuki fase baru. Volatilitas tarif, percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), hingga pergeseran menuju rantai pasok multipolar dan regional menjadi lanskap baru yang harus dihadapi pelaku usaha.

Melalui laporan terbaru Global Perspectives & Solutions (Citi GPS) bertajuk Supply Chain Financing: Global Trade Resilient in the AI Era, Citibank N.A., Indonesia mengungkap bagaimana dunia usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga beradaptasi cepat terhadap dinamika global tersebut.

Adoniro Cestari, Global Head of Trade and Working Capital Citi, menegaskan bahwa teknologi telah merekayasa ulang cara pembiayaan perdagangan beroperasi.

Baca juga: SHV Lakukan Ekspor Perdana Rempah Maluku ke Vietnam

“Pemrosesan dokumen berbasis AI meningkatkan akurasi dan memangkas waktu proses menjadi hitungan menit. Uji coba pembayaran perdagangan bersyarat berbasis blockchain juga membuka jalan menuju eksekusi digital dan otomasi penyelesaian pembayaran hampir 24/7,” ujarnya.

Tekanan Rantai Pasok Tetap Rendah

Mengacu pada Global Supply Chain Pressure Index (GSCPI), meskipun tarif Amerika Serikat meningkat signifikan menjadi sekitar 16,8% dari sebelumnya 2,4%, tekanan rantai pasok global tetap rendah dan mendekati level pra-pandemi.

Perusahaan dinilai berhasil meredam guncangan awal melalui:

  • Manajemen inventaris strategis
  • Diversifikasi pemasok
  • Percepatan strategi nearshoring

Sebanyak 65% dari 710 perusahaan besar yang disurvei Citi mengaku aktif mendiversifikasi rantai pasok dari satu atau lebih negara. Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko menjadi destinasi alternatif utama.

Asia Selatan dan ASEAN Naik Daun

Reorganisasi perdagangan global juga melahirkan “pemenang baru”. Asia Selatan dan ASEAN mencatat peningkatan pengiriman 44% dari Asia Utara dan Asia Timur. Sementara Amerika Latin menunjukkan lonjakan ekspor ke Asia Selatan dan ASEAN hingga 82% — tertinggi secara global.

Amerika Serikat sendiri turut mendiversifikasi impor, dengan kenaikan pengiriman 50% dari Asia Selatan dan ASEAN serta 43% dari Amerika Latin.

Fenomena ini menandai pergeseran menuju arsitektur perdagangan yang lebih regional, fleksibel, dan tersebar.

AI Picu Siklus Super Belanja Modal

Laporan tersebut juga menyoroti bagaimana AI memicu siklus super belanja modal (capex) global, khususnya untuk pembangunan pusat data (data center).

Citi Research memperkirakan belanja modal global terkait AI akan mencapai US$7,75 triliun pada 2030.

Baca juga: Lonjakan Investasi AI Jelang Ramadan, Ritel Masuki Fase Baru Pengalaman Belanja

Dalam konteks ini, pembiayaan perdagangan memainkan peran krusial melalui:

  • Pembiayaan rantai pasok
  • Program piutang terstruktur
  • Solusi inventaris
  • Dynamic discounting

Adopsi AI dalam pembiayaan perdagangan pun meningkat signifikan. Saat ini 36% perusahaan besar telah menggunakan alat berbasis AI, naik 18% dibanding tahun sebelumnya.

Modal Kerja Jadi Fokus Utama

Manajemen modal kerja kini menjadi prioritas C-suite. Sebanyak 64% perusahaan menyebut kenaikan biaya input sebagai kekhawatiran utama. Rata-rata 6,3% modal kerja saat ini terikat untuk mendanai biaya tarif.

“Inovasi pembiayaan yang tepat, dikombinasikan dengan keahlian penstrukturan, dapat membantu perusahaan meningkatkan likuiditas dan mengoptimalkan modal kerja, sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur AI skala besar,” tambah Cestari.

Dengan kata lain, di tengah ketidakpastian global, daya tahan perdagangan tidak lagi hanya bergantung pada jalur logistik, tetapi juga pada kecerdasan strategi pembiayaan dan pemanfaatan teknologi.