5 Rekomendasi Investasi Awal Tahun dari Bank DBS Indonesia

Jakarta, 2 Maret 2026 – Memasuki Tahun Kuda Api, dinamika ekonomi global masih dibayangi pergerakan inflasi, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian geopolitik. Situasi ini menuntut investor untuk menyusun strategi yang lebih terukur dan berbasis analisis.

Menjawab kebutuhan tersebut, Bank DBS Indonesia melalui gelaran Spring Festival 2026 bertema “Wealth, Crafted with Purpose” membagikan pandangan pasar dan strategi pengelolaan aset bagi nasabah DBS Treasures dan Treasures Private Client.

Director of Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan bahwa acara ini dirancang bukan sekadar perayaan Imlek, tetapi juga ruang berbagi perspektif investasi.

“DBS Spring Festival adalah signature event kami yang dirancang sebagai wadah untuk menghadirkan insight mendalam bagi nasabah private dan prioritas. Di tengah banyaknya pilihan, Bank DBS Indonesia siap mendampingi nasabah untuk membuat keputusan finansial yang tepat,” ujarnya.

Berikut lima rekomendasi investasi awal tahun yang dibagikan Bank DBS Indonesia:

Baca juga: Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak 33 Kali Lipat Sepanjang 2025

1. Aset Riil untuk Stabilitas Portofolio

Di tengah potensi tekanan inflasi, aset riil seperti infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia dinilai dapat membantu menjaga stabilitas portofolio. Secara historis, aset jenis ini memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi sehingga relatif lebih mampu mempertahankan nilai saat tekanan harga meningkat.

Diversifikasi lintas instrumen juga menjadi kunci dalam mengurangi risiko dan menjaga daya tahan portofolio jangka panjang.

2. Emas sebagai Safe Haven

Di tengah meningkatnya risiko fiskal global dan ketidakpastian geopolitik, emas tetap dipandang sebagai salah satu instrumen lindung nilai. Permintaan bank sentral, potensi pelemahan dolar AS, serta arus investasi melalui instrumen pasar keuangan menjadi faktor pendukung prospeknya.

Dalam konteks portofolio, emas tidak hanya berfungsi sebagai pelindung saat volatilitas meningkat, tetapi juga sebagai alat diversifikasi terhadap risiko eksternal.

3. Peluang dari Transformasi AI

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang investasi baru yang berpotensi mengubah lanskap industri dan meningkatkan produktivitas global.

Namun, investor disarankan selektif, terutama terhadap risiko valuasi tinggi dan belanja modal besar. Fokus dapat diarahkan pada perusahaan yang benar-benar mampu mengintegrasikan AI untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas berkelanjutan.

Baca juga: AI Boleh Canggih, Tapi Arah Organisasi Tetap Ditentukan Manusia

4. Kredit Investment-Grade untuk Ketahanan

Obligasi berperingkat investmentgrade dinilai menawarkan profil risiko yang lebih seimbang dibandingkan obligasi highyield. Fokus pada kredit berkualitas A/BBB dengan tenor menengah (5–7 tahun) dapat membantu menjaga stabilitas pendapatan sekaligus mengurangi risiko volatilitas.

Dengan kondisi neraca perusahaan yang relatif sehat dan risiko resesi yang dinilai rendah, instrumen ini dinilai relevan dalam strategi defensif 2026.

5. Diversifikasi ke Saham Asia di Luar Jepang

Pasar saham Asia di luar Jepang diperdagangkan dengan valuasi yang relatif lebih rendah dibandingkan pasar negara maju. Prospek pertumbuhan laba dan momentum ekonomi kawasan menjadi faktor pendukung daya tariknya.

Pelemahan dolar AS dan meningkatnya arus modal global juga berpotensi memberikan katalis positif bagi pasar kawasan ini dalam jangka menengah hingga panjang.