Imlek 2026 Dongkrak Wisata Domestik, Batam Catat Pemesanan Tertinggi

Jakarta, 4 Maret 2026 – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 kembali menjadi motor penggerak awal pariwisata domestik. Momentum libur panjang ini tak hanya memperkuat tradisi mudik dan reuni keluarga, tetapi juga mendorong pergerakan wisata lintas provinsi yang semakin merata.

Berdasarkan data PRISM, lanskap perjalanan selama periode Imlek tahun ini menunjukkan pola permintaan yang lebih sehat dan terdistribusi. Kota-kota metropolitan tetap menjadi penopang volume, namun destinasi sekunder kini memainkan peran yang kian signifikan.

Salah satu sorotan utama datang dari Batam yang mencatat pertumbuhan pemesanan tertinggi selama periode perayaan. Capaian ini mempertegas posisi Batam sebagai destinasi wisata yang semakin kompetitif di awal 2026.

Baca juga: Bye, Dompet Tebal! Ini Cara Liburan Cashless yang Praktis dan Aman

Kota Besar dan Destinasi Budaya Tetap Dominan

Kota-kota besar dengan konsentrasi komunitas Tionghoa dan pusat kegiatan budaya masih menjadi tulang punggung mobilitas nasional. Jakarta kembali memimpin volume perjalanan, didorong kombinasi reuni keluarga, perayaan budaya, hingga wisata kuliner khas Imlek.

Medan menunjukkan performa kuat sebagai pusat perjalanan berbasis budaya di wilayah barat Indonesia. Sementara Bandung tetap menjadi pilihan short escape warga Jabodetabek, terutama untuk liburan singkat dengan suasana kota yang sejuk.

Di segmen destinasi budaya dan extended stay, Bali dan Yogyakarta mempertahankan daya tariknya. Bali mencatat peningkatan durasi menginap, termasuk di properti seperti Sunday Hotel Arshika Sunset Road, mencerminkan tren bleisure dan fleksibilitas kerja jarak jauh. Yogyakarta menarik wisatawan yang ingin memadukan momen reflektif Imlek dengan eksplorasi sejarah dan budaya.

Permintaan Antarprovinsi Kian Seimbang

Secara provinsi, Jawa Barat menjadi kontributor utama arus perjalanan berkat aksesibilitas dan ragam destinasi keluarga. DKI Jakarta mencatat mobilitas intra dan antarprovinsi yang tinggi. Jawa Timur dan Sumatera Utara memperkuat peran sebagai gerbang ekonomi sekaligus pusat kunjungan keluarga, sementara Jawa Tengah terdorong tradisi mudik dan kekuatan destinasi budayanya.

Tren ini menegaskan bahwa pertumbuhan perjalanan Imlek tak lagi terpusat pada satu kota, melainkan semakin menyebar ke berbagai wilayah.

Di segmen bisnis, Deli Serdang menjadi salah satu kota dengan pemesanan tertinggi, mencerminkan mobilitas regional yang kuat di luar metropolitan utama. Muara Bungo mencatat pertumbuhan tercepat, menandakan ekspansi aktivitas ekonomi di pasar sekunder.

Sementara di sisi leisure, Banyumas mencuat sebagai destinasi alternatif yang diminati, sejalan dengan tren wisata berbasis alam dan pengalaman yang lebih tenang saat periode puncak.

Properti bergaya urban dan townhouse menjadi tipe akomodasi paling populer. Beberapa properti dengan tingkat pemesanan tertinggi antara lain Capital O Pavilion Permata Surabaya, Sunday Arshika Sunset Road Bali, Super OYO Townhouse Gunung Sahari, Super OYO Townhouse OAK Fiducia Pondok Gede, dan Collection O Fiducia Otista.

Baca juga: 5 Rekomendasi Investasi Awal Tahun dari Bank DBS Indonesia

Hendro Tan, Country Head, PRISM Indonesia, mengatakan tahun baru Imlek terus memainkan peran yang signifikan dalam mendorong aktivitas pariwisata domestik di awal tahun. Tahun ini terjadi distribusi permintaan yang lebih seimbang, di mana kota-kota sekunder turut berkontribusi bersama pusat-pusat metropolitan yang telah mapan.

“Momentum kuat di destinasi leisure yang sedang berkembang mencerminkan perubahan preferensi wisatawan, peningkatan konektivitas, serta tumbuhnya kepercayaan untuk mengeksplorasi lokasi-lokasi alternatif di seluruh Indonesia,” ujar Hendro.

Secara keseluruhan, Imlek 2026 menandai penguatan fondasi pariwisata domestik yang lebih luas, adaptif, dan resilien—dengan kota besar tetap menjadi fondasi, namun destinasi sekunder kini tampil sebagai motor pertumbuhan baru.