Gen Z & Milenial Mulai Pikir Pensiun, DBS: Jangan Tunggu Nanti
Jakarta, 28 Maret 2026 — Di tengah gaya hidup yang serba cepat dan penuh eksplorasi, generasi muda—khususnya Gen Z dan milenial—dinilai masih belum menjadikan dana pensiun sebagai prioritas utama. Padahal, tanpa perencanaan sejak dini, risiko finansial di masa tua kian nyata.
Riset Bank DBS Indonesia bertajuk “Ageing Society 2025” mengungkap fakta menarik: sebanyak 19% Gen Z (usia 22–27 tahun) dan milenial (28–43 tahun) di Asia Tenggara mengaku belum berkomitmen menabung untuk masa pensiun. Di Indonesia sendiri, sekitar 100 juta orang diperkirakan berpotensi tidak memiliki tabungan pensiun pada 2038.
Baca juga: Hidup Tanpa Tabungan: Bertahan atau Menunggu Keajaiban?
Masalahnya bukan hanya soal niat, tetapi juga kebiasaan finansial. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya menyisihkan sekitar 3% dari pendapatan, jauh di bawah rekomendasi ideal minimal 10%.
Padahal, menurut Bank DBS Indonesia, mempersiapkan pensiun tidak harus rumit—yang terpenting adalah memulai lebih awal.
“Bagi generasi yang baru memulai, instrumen yang terdiversifikasi seperti reksa dana dapat menjadi langkah awal yang relatif mudah karena membantu mengelola risiko sekaligus memberikan potensi imbal hasil yang optimal,” ujar Boy Suhendry, Head of Market Intelligence Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia.
Mulai dari Kecil, Tapi Konsisten
Keunggulan terbesar Gen Z adalah waktu. Dengan horizon investasi yang panjang, bahkan dana kecil yang diinvestasikan secara rutin bisa berkembang signifikan berkat efek compounding. Sebaliknya, menunda hanya akan memperberat target di masa depan.
Selain itu, penting untuk tidak hanya fokus pada kebutuhan dasar saat pensiun. Gaya hidup, kesehatan, hingga aktivitas sosial juga perlu diperhitungkan agar masa tua tetap berkualitas.
DBS juga menekankan pentingnya pengelolaan keuangan sederhana namun efektif, seperti metode 50-30-20—yakni membagi pendapatan untuk kebutuhan, keinginan, serta tabungan dan investasi.
Baca juga: Dari All Time High ke Investasi Cerdas: Apa Arti Rekor IHSG bagi Investor?
Tak kalah penting, strategi investasi harus disesuaikan dengan fase hidup. Milenial dapat mulai menyeimbangkan antara pertumbuhan dan stabilitas, sementara Gen Z bisa fokus pada instrumen yang lebih aman sambil membangun kebiasaan investasi.
Di sisi lain, memahami siklus ekonomi juga menjadi faktor penting agar strategi tetap relevan dan adaptif terhadap perubahan pasar. DBS menegaskan bahwa perencanaan pensiun bukan sekadar menabung, tetapi membangun kebiasaan finansial yang sehat dan disiplin sejak dini.
Dengan dukungan tools seperti Retirement Goal Calculator, generasi muda diharapkan bisa lebih mudah menghitung kebutuhan masa depan sekaligus mengukur kesiapan finansial mereka hari ini.
Pada akhirnya, pensiun yang aman dan sejahtera bukan tentang seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa konsisten seseorang mempersiapkannya.
