Scam Naik Level: VIDA dan Gita Wirjawan Ingatkan Ancaman Penipuan Digital Berbasis AI

Jakarta, 4 April 2026 — Penipuan digital (scam) kini memasuki fase baru yang jauh lebih kompleks. Bukan lagi sekadar aksi individu, praktik ini telah berkembang menjadi jaringan terorganisir lintas negara yang memanfaatkan kecanggihan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI).

Hal ini diungkapkan Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, dalam diskusi bersama Gita Wirjawan di podcast Endgame. Menurutnya, lanskap penipuan digital saat ini menunjukkan pola yang semakin rapi, terstruktur, dan mampu beroperasi dalam skala besar.

Baca juga: Privy Masuki 2026 dengan Pertumbuhan Pesat, Klaim Tangkal Penipuan Digital hingga Deepfake AI

“Penipuan sekarang tidak lagi bergerak secara acak atau dilakukan sendirian. Modusnya sudah makin rapi, terstruktur, bisa dijalankan dalam skala besar, dan kecanggihannya terus berkembang pesat,” ujar Niki.

Fenomena ini juga dipotret dalam peluncuran whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook, yang mengungkap bagaimana scam di Asia Tenggara semakin adaptif—mulai dari pemanfaatan teknologi generatif hingga kemampuan membaca momentum kepercayaan publik dan pergerakan likuiditas.

Lebih jauh, Niki menyoroti bahwa scam kini telah menjadi “industri” kriminal global. Salah satu contohnya adalah kasus di kawasan Kamboja dan Myanmar, dengan nilai aset kripto yang disita mencapai USD14 miliar. Bahkan, ratusan WNI dilaporkan sempat terjebak dalam jaringan kerja paksa terkait operasi scam lintas negara.

Di sisi lain, perkembangan teknologi seperti deepfake dan synthetic identity membuat batas antara yang nyata dan palsu semakin kabur. Konten manipulatif kini bisa terlihat sangat meyakinkan dan diproduksi dengan cepat.

“Ketika teknologi membuat sesuatu yang palsu tampak sangat nyata dan meyakinkan, tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita membangun kembali trust di ruang digital,” kata Gita Wirjawan.

Baca juga: NTT DATA Petakan Enam Tren yang akan Membentuk Masa Depan Inovasi Teknologi

Melihat tren ini, VIDA menegaskan bahwa penanganan penipuan digital tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari penguatan sistem keamanan digital hingga peningkatan literasi masyarakat.

Melalui inisiatif Where’s The Fraud Hub dan kampanye #JanganAsalKlik, VIDA mendorong publik untuk lebih kritis terhadap berbagai bentuk komunikasi digital yang semakin sulit dibedakan keasliannya.

Dengan eskalasi ancaman yang semakin nyata, penguatan digital trust menjadi kunci. Bukan hanya bagi pelaku industri, tetapi juga bagi masyarakat luas agar tidak menjadi korban dalam ekosistem digital yang terus berkembang.