Perusahaan Med-Tech Australia Ekspansi ke Indonesia, Perkenalkan Sistem Aliran Udara Bersih untuk RS
Jakarta, April 2026 – Perusahaan teknologi kesehatan (med-tech) asal Australia, Mediflow, memperluas ekspansinya ke Asia Tenggara dengan menempatkan Indonesia sebagai pasar strategis utama. Setelah menghadirkan infrastruktur ruang operasi berteknologi tinggi di berbagai rumah sakit terkemuka di Australia, serta ekspansi terbarunya ke Thailand, termasuk projek berikutnya di Bumrungrad Hospital Phuket, Mediflow kini memasuki pasar Indonesia sebagai tahap berikutnya dalam ekspansi regionalnya.
Mediflow berfokus pada sistem udara bersih yang terintegrasi untuk lingkungan kesehatan, dengan menghadirkan teknologi ventilasi canggih di ruang operasi yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan pasien sekaligus mendukung kinerja rumah sakit secara berkelanjutan. Solusi ini menitikberatkan pada peningkatan kualitas udara dan pengendalian infeksi, yang menjadi faktor kunci dalam menurunkan risiko infeksi bedah serta meningkatkan efisiensi operasional jangka panjang.
Baca juga: Laba Bersih Rumah Sakit ini Meroket 950%, Apa Resepnya?
Jordan Gear, Founder dan Managing Director Mediflow, menekankan bahwa lingkungan ruang operasi kini semakin diakui sebagai komponen krusial dalam sistem pelayanan kesehatan modern.
“Kami sangat antusias untuk memperluas ekspansi ke Indonesia seiring dengan upaya negara ini dalam meningkatkan infrastruktur layanan kesehatan menuju standar global. Di Mediflow, kami meyakini bahwa tata kelola klinis dimulai dari transparansi, dengan menangkap dan mengukur hasil layanan agar kami dapat terus meningkatkan keselamatan pasien. Tanpa sistem pengawasan yang memadai, kita tidak dapat mengambil keputusan yang tepat. Tata kelola klinis dimulai dari transparansi dengan menganalisis hasil, kita dapat terus meningkatkan keselamatan pasien. Ruang operasi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pemenuhan standar kepatuhan, tetapi sebagai aset strategis yang secara langsung mempengaruhi hasil klinis dan kinerja rumah sakit,” ujarnya.
Pandangan ini mencerminkan pergeseran industri menuju pengelolaan layanan kesehatan berbasis data, di mana pengendalian infeksi tidak lagi dianggap sebagai isu klinis yang terpisah, melainkan sebagai indikator kinerja sistem secara menyeluruh.
Jordan menambahkan, bahwa infeksi luka operasi (Surgical Site Infections/SSI) dapat memakan biaya antara USD 10.000 hingga USD 100.000 per kasus, tapi seringkali menjadi biaya tidak terlihat dalam sistem rumah sakit.
Studi klinis menunjukkan bahwa hingga 90% infeksi pada prosedur bedah bersih, seperti operasi ortopedi dan implan, berkaitan dengan kontaminasi melalui udara. Hal ini menegaskan pentingnya sistem ventilasi, pengendalian aliran udara, serta desain ruang bersih (clean room) dalam mengurangi risiko infeksi dan meningkatkan hasil klinis.
Meskipun standar global memberikan arah yang jelas, tantangan menjadi lebih besar di sistem kesehatan yang semakin berkembang. Di Indonesia, tingkat infeksi diperkirakan hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan standar global dan data terstandar masih terbatas, penguatan infrastruktur ruang operasi menjadi peluang besar untuk meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas layanan kesehatan.
Mengatasi tantangan ini tidak hanya membutuhkan kesadaran, tetapi juga penerapan teknologi terintegrasi yang mampu meningkatkan pengendalian lingkungan di ruang operasi. Mediflow menawarkan solusi modular yang mengintegrasikan sistem aliran udara, filtrasi HEPA, pencahayaan bedah, serta struktur penunjang dalam satu platform. Pendekatan ini dirancang untuk mempercepat proses pembangunan maupun renovasi, sekaligus memastikan lingkungan bedah yang lebih aman dan efisien.
Pentingnya pengendalian lingkungan ini juga diperkuat oleh perspektif klinis dan ilmiah. dr. Ridha Wahyutomo, M.Arch, SpMK, CHRA, FISQua, clinical microbiologist sekaligus perwakilan INASIC dengan keahlian di bidang arsitektur, menekankan bahwa infeksi bukan hanya terkait pasien, melainkan merupakan interaksi kompleks antara host, agen, dan lingkungan.
“Infeksi merupakan interaksi antara host, agen, dan lingkungan. Namun, faktor lingkungan, terutama kualitas udara, seringkali terabaikan, padahal memiliki peran penting dalam transmisi. Tidak ada ruang yang benar-benar steril di dunia nyata, yang ada adalah ruang bersih. Oleh karena itu, pengendalian lingkungan, termasuk ventilasi, suhu, dan kelembapan, menjadi sangat penting dalam menurunkan risiko infeksi. ACH dan tekanan udara menjadi hal penting di ruang operasi agar transmisi infeksi dapat ditangani dengan baik,” jelasnya.
Baca juga: Perempuan Ternyata Lebih Berisiko Mengalami Autoimun
Temuan ini juga sejalan dengan pengalaman klinisi yang bekerja langsung di ruang operasi, di mana risiko infeksi dihadapi secara nyata setiap hari. Dari perspektif klinis, Dr. Ricky Edwin P. Hutapea, Sp.OT, SubSp. PL (K), dokter spesialis ortopedi di Eka Hospital sekaligus Ketua KOPOTIS, menyoroti dampak langsung infeksi terhadap praktik medis.
“Infeksi adalah mimpi buruk bagi setiap dokter bedah. Menjaga lingkungan ruang operasi tetap steril sangat penting untuk mencegah komplikasi dan memastikan pemulihan pasien. Namun, pengendalian infeksi tidak hanya bergantung pada satu faktor, melainkan pada empat pilar utama, yaitu pasien, lingkungan atau infrastruktur ruang operasi, perilaku tim bedah, serta komite pengendalian infeksi (rumah sakit). Konsistensi dalam keempat pilar tersebut menjadi sangat penting untuk meningkatkan keselamatan pasien,” ujarnya.
