Laba Citi Melonjak, Mesin Uang Ada di Bunga dan Efisiensi
Jakarta, 30 April 2026 — Kinerja keuangan Citibank N.A., Indonesia (Citi Indonesia) pada 2025 menunjukkan perbaikan solid. Laba bersih tumbuh 10% menjadi Rp2,8 triliun, bukan sekadar hasil momentum pasar, melainkan kombinasi strategi bisnis yang terukur dan disiplin operasional.
Dua faktor utama menjadi penopang kinerja ini yaitu kenaikan pendapatan bunga dan efisiensi biaya. Citi mencatat peningkatan Pendapatan Bunga Bersih sebesar 7%, yang mencerminkan optimalisasi portofolio kredit serta pengelolaan aset produktif yang lebih tajam. Di saat yang sama, beban operasional tetap terkendali dan stabil—indikasi keberhasilan pengelolaan biaya di tengah tekanan industri perbankan.
CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, menegaskan bahwa capaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil eksekusi strategi yang konsisten.
Baca juga: BCA akan Bagi-bagi Dividen Interim Tunai Rp55 per Saham untuk Tahun Buku 2025
“Pencapaian ini didorong oleh strategi yang terfokus pada tiga lini bisnis inti—Banking, Markets, dan Services—serta eksekusi disiplin yang menghasilkan peningkatan pendapatan bunga bersih dan efisiensi biaya,” ujarnya.
Lebih dalam, kinerja ini juga ditopang oleh diversifikasi bisnis yang saling menguatkan. Segmen Banking tetap menjadi tulang punggung, dengan penyaluran kredit ke korporasi besar dan institusi. Treasury and Trade Solutions (TTS) tumbuh 3% dan diperkuat ekspansi layanan digital seperti omnicollection, API, dan platform CitiDirect V3. Di sisi lain, Bisnis Markets mempertahankan posisi kuat di pasar valuta asing dan obligasi, memperkuat fee-based income.
Baca juga: Laba Bersih OCBC Tembus Rp5,1 Triliun
Tidak hanya itu, aktivitas transaksi strategis dan jaringan global Citi turut menjadi katalis. Keterlibatan dalam pembiayaan korporasi besar, penerbitan obligasi global, hingga advisory merger menunjukkan peran Citi sebagai bank yang mengandalkan kapabilitas lintas negara—bukan sekadar intermediasi domestik.
Dari sisi fundamental, rasio keuangan Citi Indonesia juga berada di level yang sangat kuat. LCR mencapai 264% dan NSFR 168%, jauh di atas ketentuan regulator, sementara KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum) sebesar 38,5% mencerminkan bantalan modal yang tebal untuk ekspansi berkelanjutan.
