Smart Hospital Jadi Kunci: RS Dipaksa Lebih Cerdas, Hemat, dan Terintegrasi

Jakarta, 30 April 2026 — Transformasi rumah sakit di Indonesia kini bergerak ke arah yang lebih konkret: smart hospital bukan lagi konsep, tapi kebutuhan operasional. Schneider Electric bersama Perkumpulan Teknik Pelayanan-Kesehatan Indonesia (PTPI) menegaskan bahwa masa depan layanan kesehatan akan ditentukan oleh kemampuan rumah sakit mengintegrasikan teknologi, efisiensi energi, dan data secara realtime.

Lewat Healthcare Leadership Forum 2026, satu pesan mengemuka, bahwa rumah sakit tak cukup hanya digital—harus pintar secara sistemik. Dalam operasional 24/7 dengan konsumsi energi yang bisa mencapai 2,5 kali bangunan komersial, tekanan efisiensi dan keberlanjutan kini menjadi krusial.

Baca juga: Laba Bersih Rumah Sakit ini Meroket 950%, Apa Resepnya?

President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan, menegaskan bahwa transformasi ini menyentuh fondasi operasional. “Transformasi rumah sakit tidak hanya soal digitalisasi, tetapi memastikan efisiensi energi, keandalan operasional, dan keberlanjutan jangka panjang melalui pendekatan terintegrasi,” ujarnya.

Di sinilah konsep smart hospital menemukan relevansinya. Bukan sekadar sistem IT, melainkan integrasi menyeluruh mulai dari infrastruktur listrik, otomasi bangunan, manajemen data, hingga pengalaman pasien. Semua terhubung dalam satu ekosistem.

Namun, jalan menuju smart hospital belum mulus. Fragmentasi sistem, keterbatasan SDM, hingga tekanan biaya operasional masih menjadi hambatan utama.

Presiden PTPI, Eko Supriyanto, menekankan pentingnya orkestrasi lintas aspek. “Transformasi menuju smart hospital membutuhkan sinergi antara regulasi, sistem, pembiayaan, dan sumber daya manusia agar efisiensi dan keberlanjutan dapat tercapai,” jelasnya.

Baca juga: Perusahaan Med-Tech Australia Ekspansi ke Indonesia, Perkenalkan Sistem Aliran Udara Bersih untuk RS

Sejumlah studi kasus menunjukkan arah perubahan ini sudah berjalan. Ambil contoh RS Kanker Dharmais yang memanfaatkan sistem terintegrasi dan building automation untuk mengoptimalkan energi dan keputusan berbasis data. Sementara itu, RS Telogorejo mencatat efisiensi energi lebih dari 15% setelah integrasi sistem digital

Artinya, smart hospital bukan hanya meningkatkan layanan, tapi langsung berdampak ke biaya dan kinerja operasional. Sebagai enabler, Schneider Electric mendorong pendekatan berbasis platform seperti EcoStruxure™ for Healthcare—yang menggabungkan pengelolaan energi, IoT, analitik data, hingga keamanan sistem dalam satu kerangka. Secara global, pendekatan ini mampu menekan konsumsi energi hingga 20% sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.