Fee-Based Income dan Dana Murah Jadi Mesin CIMB Niaga di Awal 2026
Jakarta, 30 April 2026 — Kinerja PT Bank CIMB Niaga Tbk pada kuartal pertama 2026 menunjukkan pola yang semakin jelas: ketahanan laba tak lagi hanya bergantung pada kredit, tetapi pada diversifikasi pendapatan dan kekuatan dana murah.
Bank mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp2,3 triliun, dengan fondasi utama berasal dari pertumbuhan fee-based income yang solid serta pengelolaan biaya yang disiplin. Ini menandai pergeseran penting—bahwa pendapatan non-bunga kini menjadi penopang utama stabilitas kinerja di tengah tekanan margin industri perbankan.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, menegaskan arah strategi tersebut.
“Pertumbuhan pendapatan tetap terjaga stabil, didukung oleh fee-based income yang solid serta fundamental bisnis yang sehat,” ujarnya.
Baca juga: Laba Citi Melonjak, Mesin Uang Ada di Bunga dan Efisiensi
Di sisi pendanaan, kekuatan CIMB Niaga bertumpu pada DPK yang semakin berkualitas.
Total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp260,1 triliun, dengan lonjakan signifikan pada CASA yang tumbuh 12,2% YoY menjadi Rp192,3 triliun. Rasio CASA pun menembus 73,9%—level tinggi yang memberikan ruang bagi bank untuk menjaga biaya dana tetap rendah sekaligus mempertahankan margin.
Sementara itu, pertumbuhan pembiayaan dijaga tetap selektif. Total kredit/pembiayaan tumbuh 2,2% YoY menjadi Rp235,1 triliun, dengan kontribusi terbesar dari segmen korporasi yang naik 4,8%. Segmen UKM dan ritel tetap tumbuh moderat, mencerminkan strategi ekspansi yang lebih berhati-hati dengan fokus pada kualitas aset.
Di lini syariah, pembiayaan mencapai Rp52,9 triliun dengan DPK Rp45,0 triliun—menunjukkan peran penting unit syariah dalam memperluas basis pendanaan sekaligus memperkuat ekosistem keuangan inklusif.
Baca juga: MoveNow Impact Fund 2025: Akses Literasi Keuangan dan Pendidikan Inklusif
Artinya, mesin pertumbuhan CIMB Niaga kini bertumpu pada tiga pilar utama: fee-based income, dana murah, dan pembiayaan yang prudent.
Di luar itu, kanal digital mulai memainkan peran sebagai akselerator. Sebanyak 90,6% transaksi nasabah telah dilakukan melalui channel digital, sementara transaksi di aplikasi OCTO tumbuh 29%. Digitalisasi ini tidak hanya meningkatkan pengalaman nasabah, tetapi juga memperkuat efisiensi operasional dan memperdalam hubungan dengan basis dana murah.
