Produksi Tembus 2,14 Juta Ton, Pupuk Kaltim Perkuat Fondasi Ketahanan Pangan
Jakarta, 29 April 2026 — PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), bagian dari Pupuk Indonesia Grup, mencatat kinerja operasional solid sepanjang Kuartal I 2026 dengan total produksi mencapai lebih dari 2,14 juta ton. Di tengah tekanan rantai pasok global, capaian ini menjadi penopang penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan pupuk nasional.
Produksi tersebut terdiri dari 1,16 juta ton urea, 874 ribu ton amonia, dan 104 ribu ton NPK. Angka ini menegaskan posisi strategis Pupuk Kaltim sebagai produsen urea terbesar di Indonesia, sekaligus garda depan dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk demi produktivitas pertanian.
“Capaian produksi ini bukan hanya mencerminkan kinerja operasional perusahaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami dalam menjaga ketersediaan pupuk bagi petani tetap andal dan berkelanjutan. Di tengah berbagai dinamika global, menjaga akses pupuk menjadi kunci untuk memastikan produktivitas pertanian nasional tetap terjaga,” ujar Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya.
Baca juga: Java Fresh Ekspor Buah Indonesia ke 25 Negara
Didukung 13 pabrik dengan total kapasitas sekitar 6,47 juta ton per tahun, perusahaan menjaga operasional tetap efisien dan andal. Dari sisi pasokan, bantalan stok juga terjaga kuat—hingga 27 April 2026, stok pupuk tercatat 618.393 ton yang tersebar di gudang produsen dan jaringan distribusi nasional, siap disalurkan tepat waktu.
Efisiensi dan Ketahanan Bahan Baku Jadi Kunci
Keunggulan pasokan gas bumi domestik, khususnya di Kalimantan Timur, menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas produksi urea. Pada saat yang sama, perusahaan memperkuat ketahanan bahan baku melalui diversifikasi sumber, penguatan manajemen stok, serta koordinasi lintas entitas dalam grup.
Langkah ini diperkuat dengan strategi operational excellence, mulai dari optimalisasi proses produksi hingga penguatan tata kelola dan manajemen risiko untuk menjaga efisiensi jangka panjang.
Salah satu lompatan penting datang dari proyek Revamping Ammonia Pabrik-2. Modernisasi ini berhasil menurunkan konsumsi gas lebih dari 10% atau sekitar 4 MMBTU per ton amonia—indikasi nyata peningkatan efisiensi sekaligus daya saing operasional.
“Modernisasi ini dilakukan pada momentum yang tepat, ketika industri pupuk dituntut semakin efisien, andal dan adaptif. Upaya ini menjadi langkah penting dalam menjaga kesinambungan pasokan pupuk nasional secara berkelanjutan,” ujar VP Pengembangan Bisnis Pupuk Kaltim, Astri Agustina.
Tak berhenti di situ, Pupuk Kaltim juga tengah mengembangkan pabrik soda ash pertama di Indonesia sejak Oktober 2025. Selain memenuhi kebutuhan industri nasional, proyek ini akan menghasilkan amonium klorida yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk langsung maupun bahan baku NPK—membuka diversifikasi produk sekaligus memperkuat ekosistem industri pupuk.
Baca juga: Di Tengah Gejolak Timur Tengah, Pupuk Indonesia Berpeluang untuk Ekspor
Dari Produksi ke Ekosistem Petani
Di luar aspek produksi, Pupuk Kaltim mendorong penguatan ekosistem pertanian berkelanjutan. Melalui program Agrosolution, perusahaan memberikan pendampingan menyeluruh mulai dari edukasi pertanian presisi, akses pembiayaan, hingga dukungan pasar.
Hingga 28 April 2026, program ini telah menjangkau 18.913 petani di lahan seluas 56.954,32 hektar—indikasi bahwa intervensi tidak hanya di hulu, tapi juga menyasar produktivitas di tingkat petani.
Program PKT BISA di Magetan juga terus dikembangkan dengan pendekatan integrasi pertanian, peternakan, dan energi terbarukan berbasis biogas. Model ini mendorong kemandirian ekonomi sekaligus menekan dampak lingkungan.
“Melalui kinerja operasional yang andal, penguatan efisiensi, ketahanan bahan baku, serta pendampingan yang konsisten kepada petani, Pupuk Kaltim optimistis dapat terus memberikan kontribusi nyata dalam menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan,” tutup Anggono.
