Primaya Hospital Kelapa Gading Hadirkan Ablasi Jantung Tanpa Radiasi, Pasien Tak Perlu Berobat ke Luar Negeri

Jakarta, 11 Mei 2026 – Penanganan gangguan irama jantung atau aritmia kini bergerak ke arah yang lebih presisi dan minim risiko. Melihat kebutuhan tersebut, Primaya Hospital Kelapa Gading memperluas layanan Cardiac & Vascular Center dengan menghadirkan teknologi ablasi jantung tanpa radiasi (non-fluoroscopic cardiac ablation), sebuah inovasi yang memungkinkan tindakan dilakukan tanpa ketergantungan pada paparan sinar-X.

Teknologi ini memanfaatkan 3D electro-anatomical mapping, sistem pemetaan anatomi dan jalur listrik jantung secara real-time yang membantu dokter melakukan tindakan ablasi dengan tingkat akurasi lebih tinggi. Selain lebih presisi, pendekatan ini juga disebut lebih aman karena mengurangi paparan radiasi bagi pasien maupun tenaga medis.

Baca juga: Kondisi Kesehatan Ibu Berdampak pada Stabilitas Psikologis Keluarga

Langkah tersebut diperkenalkan melalui kegiatan “Live Case – Hands on Non Fluoroscopic Ablation Course” yang melibatkan tim dokter spesialis jantung Primaya Hospital Kelapa Gading, sekaligus kolaborasi dengan pakar internasional dari Taiwan.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi dan Konsultan Aritmia Primaya Hospital Kelapa Gading, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa atrial fibrilasi (AF) menjadi salah satu bentuk aritmia yang kini berkembang menjadi persoalan kesehatan global. Di kawasan Asia Pasifik, jumlah penderita diperkirakan mencapai sekitar 50 juta orang, sementara di Indonesia berkisar antara 3 hingga 5 juta pasien.

Yang menjadi tantangan, banyak penderita tidak menyadari kondisinya karena gejalanya sering kali tidak terasa.

“Keluhan jantung berdebar sering dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Jika keluhan muncul berulang, sebaiknya segera diperiksakan. Deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi sangat penting, terutama pada kelompok usia 40–60 tahun,” ujar Prof. Yoga.

Menurutnya, perkembangan terapi aritmia saat ini mengarah pada prosedur yang lebih aman sekaligus mengurangi risiko jangka panjang. Teknologi non-fluoroscopic ablation memungkinkan tindakan dilakukan dengan safety profile yang lebih baik, termasuk menekan paparan radiasi yang selama ini menjadi perhatian dalam prosedur konvensional.

“Teknologi terbaru seperti Non-fluoroscopic Ablation dan Pulse Field Ablation memungkinkan tindakan ablasi dilakukan dengan tingkat keamanan yang lebih baik sekaligus mengurangi paparan radiasi bagi pasien maupun tenaga medis. Risiko komplikasi berat juga sangat rendah, yakni kurang dari 0,2 persen,” jelasnya.

Baca juga: Berobat Tanpa Ribet: Teknologi Membuat Pasien Bisa Langsung Pulang

Selain memperkenalkan teknologi baru, Primaya Hospital Kelapa Gading juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat layanan jantung komprehensif yang dapat diakses di dalam negeri. Hal ini dinilai penting mengingat masih banyak pasien Indonesia yang memilih mencari layanan jantung lanjutan ke luar negeri.

Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo, MARS, MM, MH, C.Med, CPM, FISQua, mengatakan penguatan layanan jantung modern menjadi bagian dari strategi rumah sakit untuk menghadirkan layanan berstandar internasional yang lebih mudah diakses masyarakat.

“Live case ini bukan hanya menunjukkan teknologi, tetapi juga menjadi bukti bahwa Cardiac & Vascular Center di Primaya Hospital Kelapa Gading telah memiliki layanan jantung modern yang lengkap, mulai dari angioplasti, PCI, CABG hingga ablasi. Ke depan kami ingin masyarakat mendapatkan akses layanan jantung advanced yang lebih aman, presisi, dan terintegrasi tanpa harus ke luar negeri,” kata Ferry.