Konsumsi Gula Meningkat, Risiko Gigi Berlubang Ikut Naik
Jakarta, 13 Maret 2026 – Tingginya konsumsi gula masyarakat Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah rencana penerapan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Di balik ancaman obesitas dan diabetes, ada dampak kesehatan lain yang sering luput dari perhatian yakni kerusakan gigi akibat konsumsi gula berlebih.
Berdasarkan sejumlah temuan kesehatan, rata-rata konsumsi gula harian masyarakat Indonesia kini diperkirakan berada di kisaran 62–75 gram per hari, melampaui batas konsumsi harian yang dianjurkan Kementerian Kesehatan sebesar 50 gram.
Baca juga: Kondisi Kesehatan Ibu Berdampak pada Stabilitas Psikologis Keluarga
Kondisi ini tak hanya berkaitan dengan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes atau gangguan jantung, tetapi juga kesehatan rongga mulut. Konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan disebut dapat meningkatkan risiko karies atau gigi berlubang.
Dalam prosesnya, sisa gula yang menempel pada gigi dapat dimetabolisme oleh bakteri menjadi asam yang mengikis enamel atau lapisan pelindung gigi. Selain itu, gula juga memicu pembentukan plak lengket yang membuat bakteri lebih mudah berkembang.
Menurut dr. Liu Jitao, Head of Research & Development usmile Global, tantangan menjaga kesehatan gigi saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan pembersihan mekanis semata.
“Di tengah tingginya asupan gula harian, bakteri dapat mengubah gula menjadi glukan yang sangat lengket sehingga plak lebih mudah menempel di permukaan gigi. Karena itu, pendekatan preventif berbasis formulasi tertentu menjadi semakin relevan,” ujar Liu dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan, salah satu pendekatan yang mulai digunakan adalah pemanfaatan enzim seperti dextranase untuk membantu memecah struktur plak pada permukaan gigi. Sementara lysozyme dikenal sebagai komponen antibakteri alami yang dapat membantu menghambat perkembangan bakteri tertentu di rongga mulut.
Sejumlah pelaku industri perawatan gigi mulai mengembangkan formulasi berbasis enzim untuk menjawab perubahan pola konsumsi masyarakat, termasuk meningkatnya konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Baca juga: Makan Sehat Nggak Ribet, Kebiasaan Kecil ini Bikin Badan Lebih Enak
Di Indonesia, tren perawatan mulut juga menunjukkan pergeseran. Konsumen tak lagi hanya mencari fungsi dasar membersihkan gigi, tetapi juga perlindungan tambahan terhadap noda, plak, hingga kesehatan enamel.
Meski demikian, dokter gigi tetap mengingatkan bahwa penggunaan produk perawatan mulut sebaiknya dibarengi kebiasaan dasar yang konsisten, mulai dari membatasi konsumsi gula, menyikat gigi secara rutin, hingga pemeriksaan berkala ke dokter gigi.
Di tengah tingginya konsumsi gula masyarakat Indonesia, langkah preventif dinilai menjadi semakin penting agar masalah kesehatan mulut tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
