Sompo Indonesia Raup Laba Rp135 Miliar di 2025, Klaim Tembus Rp853 Miliar
Jakarta, 13 Mei 2026 – Industri asuransi umum masih menghadapi tantangan pada 2025, mulai dari perlambatan ekonomi hingga meningkatnya tekanan biaya kesehatan dan risiko kendaraan. Di tengah situasi tersebut, PT Sompo Insurance Indonesia mencatat pertumbuhan kinerja dengan penguatan pada premi, laba, hingga rasio permodalan.
Berdasarkan laporan keuangan audited tahun buku 2025, Sompo Indonesia membukukan laba bersih sebesar Rp135,3 miliar, naik 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara total aset perusahaan tumbuh 13% menjadi Rp4 triliun, mencerminkan ekspansi bisnis sekaligus penguatan fundamental perusahaan.
Baca juga: PFI Mega Life Gandeng Antavaya, Hadirkan Asuransi Perjalanan Langsung dari Aplikasi
Di sisi bisnis inti, net written premium (premi neto) meningkat 12% menjadi Rp1,87 triliun, ditopang lini kendaraan bermotor, properti, dan kesehatan yang menyumbang sekitar 79% dari total premi perusahaan. Secara keseluruhan, premi bruto Sompo mencapai Rp2,7 triliun pada 2025.
Namun angka yang cukup menarik justru terlihat dari sisi pembayaran klaim. Sepanjang 2025, Sompo Indonesia membayarkan total klaim mencapai Rp853 miliar, meningkat 25% secara tahunan. Jika dirata-rata, nilai klaim yang dibayarkan mencapai sekitar Rp71 miliar per bulan atau lebih dari Rp2,3 miliar per hari. Angka ini menunjukkan tingginya kebutuhan proteksi, terutama pada lini kesehatan dan kendaraan yang masih menjadi tulang punggung industri asuransi umum.
Baca juga: Generali Bayarkan Klaim Rp1,3 Triliun di 2025, Bukti Komitmen Dampingi Nasabah
Eric Nemitz, President Director & CEO Sompo Indonesia, mengatakan capaian 2025 menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan di tengah dinamika industri yang semakin kompetitif.
“Kami tetap berkomitmen memenuhi kebutuhan perlindungan aset dan kesehatan nasabah melalui strategi bisnis yang adaptif, berlandaskan integritas, sekaligus memperkuat ketahanan perusahaan dari sisi permodalan dan manajemen risiko,” ujar Eric dalam keterangan resmi.
Dari sisi kesehatan keuangan, Sompo Indonesia mencatat Risk Based Capital (RBC) atau rasio solvabilitas sebesar 240%, jauh di atas batas minimum regulator sebesar 120%. Dalam industri asuransi, RBC menjadi indikator penting untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban kepada nasabah jika terjadi lonjakan klaim.
Tak hanya lini konvensional, unit usaha syariah perusahaan juga mencatat kinerja positif. Sompo membukukan surplus underwriting dana tabarru’ sebesar Rp31,9 miliar, dengan RBC mencapai 572% untuk dana tabarru’ dan 10.768% untuk ujrah. Di saat bersamaan, perusahaan juga tengah menuntaskan proses pemisahan unit usaha syariah (spin-off) sesuai regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ke depan, Sompo melihat kebutuhan proteksi akan semakin berkembang, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kesehatan, kendaraan, dan aset. Persaingan industri asuransi umum pun diperkirakan makin ketat, mendorong perusahaan untuk menghadirkan produk yang lebih relevan, termasuk layanan berbasis syariah.
