Dari Australia ke Meja Makan, AAM Hadirkan Standar Baru Daging Premium
Jakarta, 14 Mei 2026 — Lantai 67 The Westin Jakarta mendadak menjadi panggung bagi pertemuan industri kuliner, pelaku bisnis pangan, hingga para chef saat PT Indonesia Livestock Operations (ILO), bagian dari AAM Investment Group asal Australia, menggelar The Prime Table Chef Experience.
Acara eksklusif ini menjadi penanda soft launch Anugerah Agri Makmur (AAM), merek boxed beef premium yang dirancang khusus untuk pasar Indonesia.
AAM membawa pendekatan berbeda dalam menghadirkan daging sapi premium. Sapi bakalan berbobot sekitar 300 kilogram didatangkan dari Australia, lalu menjalani proses finishing di fasilitas feedlot Indonesia. Kombinasi ini disebut menjadi cara untuk menjaga kesegaran sekaligus menghasilkan kualitas yang konsisten sesuai kebutuhan pasar domestik.
Pendekatan tersebut menjadi fondasi utama konsep composite beef yang diusung AAM—menggabungkan standar peternakan Australia dengan pemeliharaan akhir menggunakan pakan lokal di Indonesia.
Baca juga: Momen Bersejarah, untuk Pertama Kalinya Pemerintah Turunkan HET Pupuk Subsidi
Demonstrasi 30 Kilogram Daging Jadi Sorotan
Salah satu momen yang paling menyita perhatian dalam acara ini adalah aksi cooking demonstration oleh pakar pengolahan daging, Dimas Ramadhan Pangestu atau yang dikenal sebagai Dims the Meat Guy. Di hadapan tamu undangan, ia mengolah langsung sekitar 30 kilogram daging premium AAM untuk memperlihatkan kualitas tekstur, marbling, hingga karakter rasa yang dihasilkan.
Menurut Dimas, proses finishing lokal memberi pengaruh terhadap kualitas akhir daging. “Sapi yang mendapatkan penyelesaian akhir di Indonesia dengan pakan lokal menghasilkan daging dengan marbling dan tekstur yang sangat baik,” ujar Dimas.
Tak hanya soal kualitas rasa, Dimas juga menyoroti teknik pemotongan karkas AAM yang mampu menghasilkan hingga 34 jenis cuts, lebih banyak dibanding praktik umum di pasar tradisional. Variasi potongan ini dinilai membuka lebih banyak opsi bagi pelaku industri kuliner, mulai dari kebutuhan steakhouse, restoran BBQ, hingga katering premium.
Rantai Pasok Terintegrasi, Tanpa Perantara
Di balik produk yang diperkenalkan, AAM menempatkan transparansi rantai pasok sebagai salah satu nilai utama. General Manager AAM ILO, Jack Webb, menjelaskan seluruh proses dijalankan dalam satu sistem tanpa perpindahan pengelolaan ke pihak ketiga.
Model ini memungkinkan produk memiliki traceability menyeluruh, mulai dari peternakan hingga sampai ke tangan konsumen.
Baca juga: Ekspor Urea ke Australia, Saat Indonesia Mulai Bermain di Diplomasi Pangan Regional
“Peluncuran ini mewakili standar baru untuk boxed beef di Indonesia, memimpin dengan kekuatan produksi Australia yang didukung oleh keahlian lokal di lapangan,” kata Jack.
Menurut Jack, pendekatan paddock to plate atau dari peternakan hingga ke meja makan memungkinkan standar kualitas tetap terjaga secara konsisten. Selain itu, efisiensi logistik yang diterapkan juga membuat produk memiliki masa simpan lebih dari 100 hari dalam kondisi chilled, sebuah keuntungan bagi sektor foodservice, butcher, maupun ritel modern dalam mengelola stok.
Di luar peluncuran merek baru, AAM membawa ambisi yang lebih besar, yaitu memperkuat ekosistem industri protein nasional. Melalui proses finishing lokal, perusahaan ingin menunjukkan bahwa produksi dalam negeri mampu menghasilkan daging berkualitas tinggi dengan cita rasa kompetitif sekaligus daya simpan optimal.
Segmen pasar yang dibidik pun cukup spesifik, yakni para profesional di industri makanan seperti chef, hotel, restoran, hingga penyedia jasa boga yang membutuhkan pasokan daging premium dengan kualitas stabil.
