Di Tengah Gejolak Global, Apa Penopang Ekonomi Indonesia?
Jakarta, 15 Mei 2026 – Di tengah ketegangan geopolitik global dan harga energi yang sulit diprediksi, ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan. Setidaknya itu yang tergambar dari laporan terbaru DBS Research yang menilai fondasi ekonomi nasional tetap kuat pada awal 2026, meski tantangan di paruh kedua tahun mulai terlihat.
Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak kuartal III-2022. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi domestik yang masih kuat, stimulus fiskal pemerintah, serta peningkatan belanja negara yang terdorong momentum musiman, termasuk hari besar keagamaan.
Konsumsi rumah tangga dan pemerintah tumbuh sekitar 7 persen yoy, sementara investasi tetap terjaga di kisaran 6 persen yoy. Kombinasi ini membuat ekonomi Indonesia relatif stabil di tengah pasar global yang masih bergejolak. Namun, di balik angka pertumbuhan yang menjanjikan, DBS melihat sejumlah risiko mulai muncul.
Baca juga: Ekonomi Biru Indonesia Jadi Penentu Arah Baru Kawasan
Semester Kedua Perlu Diwaspadai
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menilai Indonesia memasuki 2026 dengan modal yang cukup kuat. Namun, risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan perlu sedikit dikoreksi.
“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 5,3 persen guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah,” ujar Radhika.
DBS Research memperkirakan kuartal pertama bisa menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Setelahnya, ekonomi diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, hingga tantangan menjaga disiplin fiskal nasional.
Di saat yang sama, daya beli masyarakat dipandang tetap menjadi penopang utama ekonomi domestik. Karena itu, kebijakan pemerintah menjaga inflasi dan stabilitas harga diperkirakan akan menjadi perhatian utama sepanjang tahun.
Rupiah, Inflasi, dan Konsistensi Kebijakan Jadi Kunci
DBS menilai stabilitas makroekonomi masih menjadi fondasi terpenting untuk menjaga kepercayaan pasar. Pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan arah kebijakan yang konsisten dipandang akan menentukan seberapa kuat Indonesia menghadapi tekanan global.
Pemerintah diperkirakan tetap menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap PDB melalui efisiensi belanja dan optimalisasi penerimaan negara. Sementara dari sisi regulasi, kepastian hukum serta implementasi kebijakan seperti Undang-Undang Cipta Kerja dianggap penting untuk menjaga minat investasi.
Selain itu, komunikasi kebijakan yang jelas dan mudah diprediksi juga menjadi faktor penting di tengah pasar yang sensitif terhadap perubahan global.
DBS juga memperkirakan Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas Rupiah dan likuiditas pasar. Meski suku bunga acuan kemungkinan masih ditahan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hati-hati atau hawkish seiring tekanan eksternal yang meningkat.
Hilirisasi dan Ekosistem EV Dinilai Tetap Menjanjikan
Meski dunia menghadapi ketidakpastian, DBS melihat sektor berbasis nilai tambah tetap menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Hilirisasi mineral, ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV), energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur masih dinilai menarik bagi investor.
Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra, menyebut konsistensi kebijakan akan menjadi faktor penentu agar momentum investasi tetap terjaga.
“Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi,” kata William.
DBS juga mencatat kredit investasi masih tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Hal ini menunjukkan minat investasi domestik masih cukup resilien meski pasar keuangan global bergerak fluktuatif.
Harga Energi dan Geopolitik Jadi Ancaman Terbesar
Salah satu perhatian utama DBS Research adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi energi global.
Baca juga: Teknologi Panas Bumi Indonesia Go International, Petro-MAX PGE Sabet Gold Medal di Korea Selatan
Dalam skenario dasar, harga minyak diproyeksikan berada di kisaran USD80–85 per barel. Namun jika situasi memburuk, harga minyak bisa melonjak hingga USD100–150 per barel, yang berpotensi memicu tekanan inflasi di dalam negeri.
Selain harga energi, pelemahan Rupiah, kenaikan harga produsen (producer price index/PPI), hingga dampak cuaca seperti El Niño juga dinilai dapat memperbesar tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.
Reformasi Pasar Keuangan Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Di luar tantangan jangka pendek, DBS menilai Indonesia masih perlu mempercepat reformasi pasar modal dan penguatan institusi untuk menjaga daya tarik investasi jangka panjang.
Salah satu sorotannya adalah perlunya memperbesar peran investor domestik—mulai dari dana pensiun, manajer investasi lokal, hingga Danantara—agar pasar keuangan tidak terlalu bergantung pada arus modal asing.
Pada saat yang sama, percepatan transisi energi dan proyek waste-to-energy (WTE) dinilai dapat memperkuat kredibilitas agenda keberlanjutan atau environmental, social, and governance (ESG) Indonesia di mata investor global.
