Bukan Sekadar Administrasi, HR Kini Dituntut Jadi Penggerak Bisnis

Jakarta, 26 Mei 2026 – Dunia kerja yang semakin global membuat tantangan kepemimpinan ikut berubah. Pemimpin tidak lagi hanya dituntut mengejar target bisnis, tetapi juga mampu mengelola perbedaan budaya kerja, memahami karakter generasi muda, hingga menjaga empati di tengah perubahan organisasi.

Hal tersebut menjadi sorotan dalam episode kedua Power Talks by Jobstreet by SEEK bersama Head of Asia Pacific Business Admin Group Hyundai Motor, Widyo Rulyantoko. Diskusi ini membahas bagaimana perusahaan dapat membangun organisasi yang adaptif, kolaboratif, sekaligus tetap kompetitif di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.

Dari perbincangan tersebut, terdapat sejumlah pelajaran penting yang dinilai relevan bagi praktisi HR maupun pemimpin bisnis saat ini.

Fokus Melawan Kompetitor, Bukan Konflik Internal

Menurut Widyo, salah satu tantangan terbesar dalam organisasi lintas fungsi maupun lintas negara adalah potensi gesekan internal akibat perbedaan cara kerja dan sudut pandang.

Karena itu, pemimpin perlu memastikan energi tim tetap diarahkan ke tantangan eksternal, bukan habis dalam konflik di dalam organisasi.

Baca juga: Gen Z vs Senior? Ini Strategi HR Menang di Era AI

“Pertarungan yang sebenarnya ada di luar perusahaan, yaitu menghadapi perubahan pasar dan kompetitor. Pemimpin perlu memastikan tim tetap fokus pada tujuan besar organisasi,” ujar Widyo.

Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kolaborasi tetap sehat, terutama di perusahaan yang memiliki struktur kerja kompleks dan melibatkan banyak kepentingan.

Kepemimpinan Lintas Budaya Jadi Keterampilan Penting

Widyo juga menyoroti pentingnya kemampuan membaca konteks budaya dalam lingkungan kerja regional maupun global. Perbedaan gaya komunikasi, prioritas kerja, hingga ekspektasi antarnegara sering kali menjadi tantangan tersendiri dalam proses kolaborasi.

Menurutnya, pemimpin perlu memiliki kemampuan menemukan common ground agar tim tetap dapat bergerak dalam arah yang sama.

Keterbukaan, kemampuan bernegosiasi, dan pemahaman terhadap tujuan bersama disebut menjadi fondasi penting untuk membangun kerja sama lintas budaya yang efektif.

Gen Z Butuh Purpose, Bukan Sekadar Instruksi

Dalam diskusi tersebut, Widyo menilai pendekatan kepemimpinan terhadap generasi muda juga perlu berubah. Gen Z dinilai tidak cukup hanya diberi instruksi teknis, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai tujuan dan dampak dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Karena itu, pemimpin perlu memberikan konteks yang jelas sekaligus ruang eksplorasi agar anggota tim dapat menemukan cara terbaik dalam mengeksekusi pekerjaannya.

Pendekatan ini dinilai mampu mendorong inovasi sekaligus membangun rasa kepemilikan yang lebih kuat di dalam tim.

HR Kini Dituntut Menjadi Business Leader

Perubahan dunia kerja juga membuat peran HR berkembang semakin strategis. Widyo menilai HR tidak lagi cukup hanya menjalankan fungsi administratif atau operasional SDM.

Sebaliknya, HR perlu hadir sebagai business leader yang memahami arah bisnis perusahaan, menyiapkan talenta, serta membangun budaya kerja yang mendukung keberlanjutan organisasi.

Pandangan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap pemimpin HR yang mampu menjembatani kebutuhan bisnis dan kebutuhan manusia secara bersamaan.

Empati Tetap Penting di Tengah Perubahan

Di tengah tekanan bisnis dan dinamika organisasi, Widyo menekankan bahwa empati tetap menjadi fondasi penting dalam kepemimpinan.

Menurutnya, keputusan sulit memang tidak dapat dihindari, tetapi prosesnya tetap perlu dijalankan dengan komunikasi yang baik dan menghargai sisi kemanusiaan.

Baca juga: Gen Z & Milenial Mulai Pikir Pensiun, DBS: Jangan Tunggu Nanti

“Buat saya, kepemimpinan hari ini bukan hanya soal mengarahkan tim untuk mencapai target, tetapi juga bagaimana kita membangun titik temu di tengah perbedaan budaya, generasi, dan cara kerja,” ungkap Widyo.

Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, Sawitri, mengatakan tantangan kepemimpinan modern membuat fungsi HR perlu memiliki perspektif yang lebih strategis dibanding sebelumnya.

“HR hari ini perlu hadir sebagai business leader yang mampu menjembatani kebutuhan bisnis dengan kebutuhan manusia di dalam organisasi. Ini menjadi semakin penting ketika perusahaan harus bergerak cepat, tetapi tetap menjaga budaya kerja yang sehat dan kolaboratif,” ujar Sawitri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *