Tren Hidup Sehat Topang Ekspor Minyak Kelapa Indonesia

Jakarta, 31 Mei 2026 – Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan penggunaan bahan alami di berbagai belahan dunia, minyak kelapa semakin mendapat tempat sebagai komoditas bernilai tinggi. Kondisi ini menjadi angin segar bagi Indonesia yang hingga kini masih menjadi salah satu pemain utama dalam perdagangan minyak kelapa global.

Kajian sektoral Indonesia Eximbank (IEB) Institute menunjukkan daya saing ekspor minyak kelapa Indonesia tetap terjaga meski industri menghadapi tekanan pasokan global dan fluktuasi produksi. Pada 2025, Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak kelapa terbesar kedua di dunia, baik untuk minyak kelapa mentah (HS 1513.11) maupun minyak kelapa dimurnikan (HS 1513.19), dengan pangsa pasar global masing-masing sekitar 22 persen.

Baca juga: Ekspor Urea ke Australia, Saat Indonesia Mulai Bermain di Diplomasi Pangan Regional

Menariknya, meski volume ekspor mengalami penurunan, nilai ekspor justru melonjak signifikan. Sepanjang Januari–Desember 2025, volume ekspor minyak kelapa Indonesia turun sekitar 18 persen. Namun secara kumulatif, nilai ekspornya meningkat lebih dari 43 persen.

Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut terutama dipicu oleh lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku di tingkat global maupun domestik.

“Peningkatan nilai ekspor ini terutama dipicu oleh lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku dan pasokan domestik, yang turut dipengaruhi oleh El Niño sehingga sebagian pabrik mengurangi kapasitas produksi sementara. Kondisi ini mendorong tekanan harga minyak kelapa di pasar ekspor semakin meningkat,” ujar Rini.

Menurut Rini, posisi Indonesia masih cukup kuat dalam peta perdagangan minyak kelapa dunia. Pada 2025, Indonesia berada di peringkat kedua eksportir minyak kelapa global dengan pangsa pasar 22 persen, di bawah Filipina yang menguasai sekitar 49 persen pasar dunia. Sementara itu, Belanda menempati posisi ketiga dengan pangsa sekitar 10 persen.

Di tengah persaingan tersebut, minyak kelapa Indonesia dinilai tetap memiliki daya saing yang tangguh, terutama karena didukung diversifikasi pasar yang luas. Saat ini, minyak kelapa Indonesia diekspor ke lebih dari 90 negara, sehingga tidak bergantung pada satu atau dua pasar utama saja.

Belanda, Tiongkok, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat masih menjadi tujuan ekspor terbesar. Namun peluang pertumbuhan dinilai masih terbuka lebar, terutama di pasar Eropa dan sejumlah kawasan nontradisional yang semakin mengutamakan produk alami dan berkelanjutan.

Fenomena ini sejalan dengan perubahan pola konsumsi global. Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mendorong permintaan berbagai produk berbahan alami, termasuk minyak kelapa murni. Produk ini banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik, hingga kesehatan karena dianggap lebih dekat dengan konsep clean label dan natural ingredients yang kini semakin diminati konsumen dunia.

“Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk melakukan penetrasi ekspor ke pasar yang menaruh perhatian pada produk berbasis keberlanjutan, seperti Uni Eropa,” kata Rini.

Ke depan, IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa Indonesia masih akan tumbuh moderat sekitar 9 persen pada 2026. Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh pemulihan produksi dari negara pesaing seperti Filipina serta penyesuaian harga kelapa yang diperkirakan kembali bergerak menuju level normal.

Meski prospek ekspor tetap positif, tantangan utama industri minyak kelapa nasional masih berada pada sisi pasokan bahan baku. Produksi kelapa domestik menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari penuaan pohon kelapa, rendahnya produktivitas pekebun rakyat, dampak cuaca ekstrem, hingga meningkatnya ekspor kelapa bulat ke luar negeri.

Karena itu, peremajaan kebun dan penguatan hilirisasi dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri.

“Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional. Pemerintah telah memulai langkah peremajaan kebun dengan realisasi sekitar 44,9 ribu hektar pada 2024, serta menargetkan perluasan program replanting hingga ratusan ribu hektar pada periode 2026–2027. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kelapa dan menjamin pasokan bahan baku bagi industri pengolahan dalam negeri,” jelas Rini.

Baca juga: SHV Lakukan Ekspor Perdana Rempah Maluku ke Vietnam

Selain menjaga pasokan, hilirisasi juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa Indonesia. Pengembangan produk turunan berdaya saing tinggi akan memperluas pemanfaatan bahan baku domestik sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar ekspor global.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, mulai dari peremajaan kebun hingga penguatan industri hilir, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempertahankan bahkan meningkatkan perannya sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan minyak kelapa dunia.

“Peremajaan kebun kelapa dan hilirisasi menjadi strategi untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku minyak kelapa di masa depan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran minyak kelapa sebagai komoditas potensial yang berkelanjutan dan mampu mendorong kinerja ekspor nasional ke depan,” tutup Rini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *