AI Makin Cepat Diadopsi, Tapi Infrastruktur Digital Indonesia Menghadapi Tantangan Baru

Jakarta, 4 Juni 2026 – Kecerdasan buatan (AI) tengah bergerak dari tahap eksperimen menuju implementasi nyata di dunia bisnis. Perusahaan kini tidak lagi sekadar mencoba teknologi AI, tetapi mulai mengintegrasikannya ke dalam operasional sehari-hari, mulai dari layanan pelanggan, analisis data, hingga otomatisasi proses bisnis.

Namun di balik percepatan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak selalu terlihat oleh pengguna. Semakin banyak aplikasi, data, dan model AI yang berjalan bersamaan, semakin tinggi pula kebutuhan perusahaan untuk memastikan seluruh sistem tetap aman, stabil, dan dapat dipantau secara real time.

Fenomena ini menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan observability dan keamanan digital Datadog memperkuat investasinya di Indonesia dengan menunjuk Karina Gunawan sebagai Regional Vice President Enterprise untuk Indonesia dan Greater Mekong Subregion (GMS).

Baca juga: Dicoding Gandeng IBM Kembangkan Keterampilan AI di Kalangan Siswa Vokasi

Area Vice President Enterprise ASEAN & SAARC Datadog, Ali Azarian, menilai Indonesia telah menjadi salah satu pasar teknologi paling dinamis di Asia Tenggara.

“Indonesia merupakan salah satu kawasan teknologi paling dinamis dan kompetitif di Asia Tenggara. Karina telah memberikan kontribusi nyata dalam pertumbuhan Datadog di kawasan ini. Ia juga memiliki pemahaman mendalam terhadap lanskap industri, pelanggan, serta apa yang diperlukan untuk membangun kemitraan bisnis jangka panjang,” kata Ali.

Penunjukan tersebut datang pada saat Indonesia sedang memasuki fase penting transformasi digital. Pemerintah menempatkan AI sebagai salah satu pilar menuju visi Indonesia Emas 2045, sementara sektor-sektor seperti perbankan, telekomunikasi, e-commerce, dan logistik terus mempercepat adopsi teknologi berbasis cloud dan AI.

Di sisi lain, kompleksitas sistem digital juga meningkat. Semakin banyak perusahaan mengoperasikan berbagai model AI sekaligus, sehingga kebutuhan terhadap visibilitas sistem menjadi semakin krusial.

Karina Gunawan menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal kemampuan AI, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut berjalan secara andal dan aman.

“AI mempercepat segala aspek, dari cara bisnis menjalankan operasionalnya, cara konsumen menjalani kesehariannya, hingga cara infrastruktur digital dibangun. Namun, akselerasi tanpa kendali yang memadai hanya akan menjadi risiko dalam skala besar,” ujarnya.

Menurut Karina, perusahaan perlu memahami secara menyeluruh bagaimana aplikasi AI mereka bekerja, sementara konsumen pada akhirnya bergantung pada ketahanan sistem digital yang menopang berbagai layanan sehari-hari.

Laporan State of AI Engineering 2026 yang dirilis Datadog menunjukkan bahwa hampir 70 persen perusahaan global kini menjalankan tiga model AI atau lebih secara bersamaan. Adopsi teknologi berbasis agen AI juga meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, sekitar 5 persen permintaan AI di lingkungan produksi masih mengalami kegagalan, sebagian besar akibat keterbatasan kapasitas dan kompleksitas operasional.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa isu observability mulai menjadi perhatian strategis. Dalam dunia teknologi, observability mengacu pada kemampuan perusahaan memahami kondisi sistem digital secara menyeluruh, mulai dari aplikasi, infrastruktur, data, hingga keamanan, sehingga gangguan dapat dideteksi sebelum berdampak pada pengguna.

Baca juga: Pakai Aplikasi ini Biar Ibadah Bisa Konsisten

Tantangan tersebut tidak hanya terjadi di tingkat global. Indonesia juga menghadapi tekanan yang semakin besar dari sisi keamanan siber. Dengan ribuan upaya serangan digital yang terjadi setiap pekan, perusahaan dituntut menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan.

Beberapa perusahaan teknologi besar di Indonesia telah mengandalkan platform observability untuk mengelola kompleksitas tersebut. Mulai dari operator telekomunikasi, platform e-commerce, layanan streaming, hingga perusahaan teknologi finansial yang harus menjaga jutaan transaksi dan interaksi pengguna setiap hari.

Pada akhirnya, gelombang AI yang tengah berlangsung bukan hanya soal menciptakan teknologi yang lebih cerdas. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh sistem yang menopangnya mampu bekerja secara stabil, aman, dan dapat dipercaya. Di titik inilah observability mulai bergeser dari isu teknis menjadi kebutuhan bisnis yang semakin strategis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *