AI Bukan Jalan Pintas, Pengguna Dituntut Tetap Berpikir

Jakarta, 29 Januari 2026 — Awal tahun kerap menjadi momentum menata ulang cara bekerja. Target disusun, strategi diperbarui, dan efisiensi kembali jadi kata kunci. Di tengah itu semua, Artificial Intelligence (AI) hadir sebagai alat yang makin lazim digunakan pekerja Indonesia—dari menyusun laporan, menganalisis data, hingga mempercepat pembuatan konten.

Survei penggunaan AI di tempat kerja menunjukkan, 27% pekerja mampu menghemat lebih dari sembilan jam kerja per minggu berkat teknologi ini. Angka tersebut menjelaskan mengapa AI dengan cepat diadopsi sebagai “asisten baru” di kantor. Namun, di balik efisiensi itu, muncul tantangan yang lebih subtil: kecenderungan menjadikan AI sebagai jalan pintas berpikir.

Ketika kecepatan lebih dipuja daripada ketepatan, risiko penurunan kualitas analisis dan pengambilan keputusan pun mengintai. AI yang seharusnya memperkuat proses berpikir justru berpotensi menggerusnya, jika digunakan tanpa kesadaran konteks dan tanggung jawab.

Baca juga: Dorong Adopsi AI Agent di Sekolah, Biji-biji Initiative dan KNI Bekali Guru Bontang Lewat Microsoft Elevate

Menyadari hal tersebut, Allianz Indonesia menghadirkan forum diskusi Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertajuk “AI Yes, Shortcut No: Cara Cerdas Pakai AI di Dunia Kerja”. Diskusi ini menghadirkan Abi Mangku Nagari, AI Implementation Consultant, untuk mengajak pekerja melihat AI sebagai alat bantu berpikir—bukan pengganti cara berpikir manusia

“Produktivitas bukan soal seberapa cepat pekerjaan selesai, melainkan seberapa tepat keputusan diambil dan seberapa kuat fondasi berpikir di baliknya,” ujar Wahyuni Murtiani, Head of Corporate Communications Allianz Indonesia.

Abi menegaskan, tantangan terbesar adopsi AI di dunia kerja justru terletak pada mindset penggunanya. “Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas berpikir dan rasa tanggung jawab justru bisa menurun,” ujarnya.

Dalam praktiknya, AI paling berdampak ketika berperan sebagai co-pilot, bukan auto-pilot. Ada lima prinsip sederhana yang dapat menjadi pegangan agar pemanfaatan AI tetap produktif tanpa terjebak pada shortcut thinking.

Pertama, mulai dari problem framing, bukan sekadar prompting

Alih-alih langsung menulis perintah, penting untuk terlebih dahulu mendefinisikan masalah yang ingin diselesaikan. Tanpa kerangka yang jelas, AI memang bisa memberi jawaban cepat, tetapi sering kali bersifat umum dan dangkal.

Kedua, gunakan AI untuk menyusun struktur berpikir, bukan menghasilkan kesimpulan

AI sangat membantu dalam merapikan alur, mengelompokkan ide, atau memetakan argumen. Namun, keputusan akhir tetap perlu diambil oleh pekerja sebagai pengguna yang memahami konteks dan dampaknya.

Ketiga, alihkan beban tugas berulang pada AI

Banyak waktu kerja tersita untuk tugas berulang seperti merangkum dokumen atau menyiapkan draft awal. Dengan mengalihkan tugas-tugas ini ke AI, pekerja memiliki ruang lebih besar untuk melakukan analisis, menilai risiko, dan menyusun strategi.

Baca juga: Haruskah Guru Digantikan AI?

Keempat, posisikan AI sebagai co-pilot yang bisa diajak berdialog

Output AI sebaiknya dilihat sebagai bahan diskusi, bukan hasil akhir. Dengan menguji dan mempertanyakan kembali jawabannya, pekerja tetap memegang kendali sekaligus memperluas perspektif.

Kelima, akhiri setiap proses dengan human judgment

Tahap akhir yang tidak dapat diambil alih oleh AI adalah penilaian pekerja terhadap dampak dan konsekuensi dari sebuah output, baik dari sisi akurasi, implikasi bisnis, maupun etika.

Diskusi ini menjadi relevan di Indonesia, di mana adopsi generative AI justru melampaui rata-rata global. Data Work Trend Index 2024 mencatat 92% pekerja Indonesia telah memanfaatkan AI dalam pekerjaan, jauh di atas rata-rata global 75%. Tingginya adopsi ini menjadi peluang sekaligus ujian: apakah AI akan memperkuat kualitas kerja, atau justru melahirkan budaya kerja serba instan.

“AI sering dianggap pintar karena jawabannya cepat. Padahal, nilai sebenarnya muncul ketika pekerja memahami cara membingkai masalah, menguji output, dan mengambil keputusan secara sadar,” tutup Abi.