Area Banjir Meluas, Proteksi Kendaraan dan Properti Makin Krusial
Jakarta, 2 Februari 2026 – Cuaca ekstrem belakangan ini memicu banjir di sejumlah wilayah Indonesia yang selama ini tidak lekat dengan label ‘rawan banjir’. Bali, yang lebih dikenal sebagai destinasi wisata, justru mencatat dampak signifikan akibat banjir dan longsor.
Berdasarkan data Allianz Utama Indonesia, klaim yang diajukan tertanggung asuransi properti dan kendaraan di wilayah Bali per Desember 2025 diperkirakan mencapai Rp22 Miliar. Dengan Badung, Denpasar, dan Gianyar menjadi kontributor klaim terbesar, yang didominasi oleh kerusakan akibat banjir dan water damage.
Pola serupa juga terlihat di wilayah lain di Indonesia. Pada kuartal akhir 2025, hujan ekstrem juga menyebabkan banjir di sejumlah daerah, seperti Bima (Nusa Tenggara Timur), dan Kalimantan Selatan.
Baca juga: CCEP Indonesia Salurkan Beasiswa 50.000 Euro bagi Mahasiswa Terdampak Bencana di Sumatra
Kondisi ini menunjukkan pergeseran risiko banjir di Indonesia, dari risiko yang sebelumnya “terlokalisasi”, menjadi risiko yang semakin tidak terduga dan berdampak langsung pada aset masyarakat, khususnya rumah tinggal dan kendaraan pribadi.
“Yang berubah bukan hanya intensitas hujan, tapi juga pola risikonya. Ketika bencana, seperti banjir, bisa terjadi di area yang sebelumnya dianggap aman, masyarakat perlu melihat asuransi properti dan kendaraan sebagai bagian penting dari manajemen risiko, bukan sekadar perlindungan tambahan,” ungkap Ignatius Hendrawan, Direktur dan Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia.
Di tengah pola cuaca yang semakin sulit diprediksi, pendekatan terhadap perlindungan aset pun perlu berubah. Banjir tidak lagi bisa dilihat sebagai risiko musiman di wilayah tertentu, melainkan risiko yang dapat terjadi kapan saja dan berdampak langsung pada rumah serta kendaraan. Dalam situasi ini, asuransi menjadi bagian penting dari kesiapan finansial untuk mengelola risiko yang semakin kompleks.
Baca juga: 5 Fase Hidup Penuh Risiko yang Mesti Dipikirkan Kaum Muda
“Perlindungan bukan tentang seberapa mungkin risiko terjadi kepada diri kita, tetapi tentang bagaimana kesiapan kita ketika risiko itu datang. Perubahan kesadaran ini yang selalu kami upayakan melalui berbagai inisiatif sebagai bentuk komitmen Allianz Utama dalam memberikan kenyamanan dan rasa tenang bagi nasabah dan masyarakat,” tutup Ignatius.
Perubahan pola risiko banjir ini menggeser cara pandang terhadap perlindungan aset. Asuransi properti dan kendaraan kini tidak lagi relevan diposisikan sebagai opsi tambahan, melainkan bagian penting dari manajemen risiko, dengan beberapa pertimbangan:
- Banjir semakin sulit diprediksi lokasinya, sehingga aset di luar wilayah langganan banjir pun berpotensi terdampak.
- Rumah dan kendaraan merupakan aset bernilai tinggi, dengan biaya perbaikan yang dapat menjadi beban finansial signifikan ketika terjadi kerusakan akibat banjir.
- Kerugian akibat banjir sering kali terjadi secara tiba-tiba, tanpa memberi ruang bagi kesiapan finansial jika tidak dilindungi sejak awal.
- Perlindungan asuransi membantu mengalihkan risiko finansial, sehingga dampak banjir tidak sepenuhnya harus ditanggung oleh pemilik aset.
