Atasi Disfungsi Ereksi, Phapros Perkenalkan Terapi ODF
Lombok, Desember 2025 – PT Phapros Tbk (PEHA), meluncurkan produk terbarunya di segmen terapi kesehatan pria dewasa dalam bentuk oral dissolving film (ODF). Produk ini dirancang untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan dan kepatuhan pasien.
Disfungsi ereksi (DE) merupakan gangguan seksual pria berupa ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk aktivitas seksual yang memuaskan. Berdasarkan berbagai studi klinis, prevalensi DE meningkat seiring bertambahnya usia dan kerap berkaitan dengan penyakit komorbid seperti diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, gangguan hormonal, serta faktor psikologis dan gaya hidup. Sayangnya, DE masih sering dianggap tabu sehingga banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Baca juga: Perempuan Ternyata Lebih Berisiko Mengalami Autoimun
Menurut studi yang dilakukan pada 2021, penggunaan Tadalafil ODF oleh penderita DE terbukti efektif dan aman untuk digunakan sewaktu-waktu ketika dibutuhkan, sehingga bisa membantu meningkatkan kualitas hidup.
“Terapi berbasis tadalafil dalam bentuk ODF, dikembangkan dengan teknologi yang memungkinkan obat larut di mulut tanpa memerlukan air, sehingga lebih praktis digunakan, memberikan kenyamanan bagi pasien, serta mendukung onset kerja yang relatif cepat dengan durasi efek yang panjang,” ungkap Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, The 4th InaSAU Meeting yang diselenggarakan oleh Indonesian Society of Andrological Urology (InaSAU) pada 19-20 Desember 2025 di Lombok.
Secara mekanisme kerja, tadalafil merupakan inhibitor phosphodiesterase-5 (PDE-5) yang berperan meningkatkan aliran darah ke corpus cavernosum, sehingga membantu terjadinya dan mempertahankan ereksi. Dengan durasi kerja yang dapat mencapai hingga 36 jam, terapi ini memberikan fleksibilitas waktu penggunaan dan mendukung kualitas hidup pasien dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami menganggap bahwa kolaborasi berkelanjutan dengan organisasi profesi medis sangat penting untuk memperkuat edukasi, pertukaran ilmu, serta penerapan terapi berbasis bukti dalam penanganan kesehatan pria,” tutur Ida.
Ketua INASAU Dr.dr. Widi Atmoko, Sp.U(K), FECSM, mengungkapkan bahwa prevalensi disfungsi ereksi di Indonesia tergolong lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia, angka prevalensi disfungsi ereksi mencapai lebih dari 30 persen, sementara secara global berada di kisaran 14 persen.
Baca juga: Cove Gandeng Halodoc Perkuat Akses Layanan Medis bagi Penghuni Co-Living
“Angka ini menunjukkan bahwa magnitude masalah disfungsi ereksi di Indonesia cukup tinggi. Ini menjadi isu kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius, baik dari sisi medis maupun edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.
“Dengan adanya obat seperti ini, pilihan terapi bagi pasien menjadi lebih luas. Secara mekanisme kerja, obat ini masih berada dalam golongan PDE-5 inhibitor, namun dengan karakteristik durasi kerja yang bisa lebih panjang dibandingkan beberapa terapi sejenis,” jelasnya.
