Belanja Kesehatan Berpotensi Tembus Rp1.400 Triliun, Peluang bagi KEK ETKI Banten

BSD City, 8 Desember 2025 — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mendorong motor pertumbuhan ekonomi nasional sejak pertama kali digagas pada 2009. Semester I 2025, realisasi investasi kumulatif KEK menembus Rp286,8 triliun, menunjukkan minat investor yang konsisten bahkan di tengah dinamika ekonomi global.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (ETKI) Banten atau D-HUB SEZ di BSD City. Berkolaborasi dengan SUAR, kawasan ini menjadi tuan rumah forum “Kawasan Ekonomi Khusus Akseleratif, Atraktif: Tingkatkan Investasi dan Lapangan Kerja”, menghadirkan para pengambil kebijakan nasional, pelaku industri, hingga akademisi.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan perlunya mendorong industri kesehatan untuk tumbuh di dalam negeri. Menurutnya, belanja industri kesehatan tumbuh 9–10% per tahun namun masih didominasi impor.

Baca juga: SHV Lakukan Ekspor Perdana Rempah Maluku ke Vietnam

“Opportunity ini besar sekali. Kita perlu membangun manufacturing facility di Indonesia agar value, GDP, dan lapangan kerja tercipta di dalam negeri,” ujarnya. Belanja kesehatan berpotensi melonjak dari Rp640 triliun menjadi Rp1.400 triliun dalam waktu dekat, membuka ruang besar bagi investasi di medical devices, farmasi, rumah sakit, hingga laboratorium.

Dari perspektif ekonomi makro, Sekretaris Kemenko Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, menyoroti pentingnya KEK sebagai pusat pertumbuhan baru dalam visi Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan bahwa hilirisasi, ekonomi hijau-biru, dan integrasi industri ke rantai pasok global menjadi prasyarat untuk menarik investasi jangka panjang.

“Pengembangan aglomerasi industrial di KEK harus memberikan kepastian bagi investor agar mereka berani berkomitmen secara jangka panjang,” ujarnya.

Bagi KEK ETKI Banten, forum ini menjadi penegasan posisi strategis kawasan tersebut. Mulyawan Gani, Strategy Advisor KEK ETKI Banten, menyampaikan bahwa dukungan nyata pemerintah memperkuat daya tarik investasi. Insentif seperti tax holiday, perizinan ringkas, dan fleksibilitas arus barang maupun tenaga kerja membuat KEK ini semakin kompetitif.

Baca juga: Misbakhun Puji Danatara: Investasi Serap Banyak Tenaga Kerja 

Sebagai KEK yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, teknologi, dan ekonomi kreatif, KEK ETKI Banten dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang menghubungkan riset, inovasi, dan industri. Infrastruktur modern serta insentif yang kompetitif membuat kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan baru di Jabodetabek.

Lindawaty Chandra, Kepala BUPP KEK ETKI Banten, menegaskan bahwa D-HUB SEZ bukan hanya kawasan bisnis, melainkan platform kolaboratif antara pemerintah, industri, dan akademisi. “Kami berkomitmen menarik investasi berkualitas tinggi dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja melalui ekosistem inovasi yang solid,” katanya.

Namun tantangan tetap ada. Dengan 24 KEK aktif, luas total Indonesia jauh tertinggal dibanding negara pesaing seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Selain insentif, kepastian regulasi menjadi sorotan penting bagi investasi jangka panjang. Para panelis sepakat bahwa sinkronisasi kebijakan lintas kementerian hingga penguatan peran Administratur KEK merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing nasional.

Hasil diskusi forum ini diharapkan menjadi rujukan strategis bagi pengembangan KEK di seluruh Indonesia — mulai dari tata kelola, inovasi, hingga kolaborasi lintas sektor. Tujuannya jelas memperkuat daya saing Indonesia di tengah kompetisi global sekaligus memastikan KEK benar-benar menghadirkan nilai tambah dan lapangan kerja bagi masyarakat.