Blue Chip, Lapis Dua, dan Saham Kecil: Bedanya Apa Sih?

Jakarta, 14 Januari 2026 – Masuk ke dunia saham sering terasa membingungkan, apalagi buat pemula. Istilah seperti blue chip, lapis dua, dan saham kecil terdengar teknis, padahal sebenarnya cukup sederhana jika dijelaskan dengan contoh.

Anggap saja dunia saham seperti dunia kendaraan: ada yang stabil dan nyaman, ada yang gesit dan berkembang, dan ada juga yang kecil tapi bisa melaju sangat cepat. Berikut penjelasannya.

Blue Chip: Saham Besar yang Relatif Stabil
Saham blue chip berasal dari perusahaan besar dan sudah lama beroperasi. Bisnisnya mapan, produknya akrab di kehidupan sehari-hari, dan kinerjanya relatif stabil.

Ciri umumnya antara lain perusahaan berskala besar, pergerakan harga yang tidak terlalu ekstrem, serta likuiditas yang tinggi.

Contoh (sekadar ilustrasi, bukan rekomendasi):
bank besar nasional, perusahaan telekomunikasi besar, atau produsen barang konsumsi yang produknya sering digunakan sehari-hari.

Saham jenis ini kerap dipilih pemula untuk belajar memahami pergerakan pasar dengan risiko yang lebih terkontrol.

Lapis Dua: Saham yang Sedang Bertumbuh
Di bawah blue chip ada saham lapis dua, yaitu perusahaan dengan skala menengah yang bisnisnya sudah berjalan dan masih memiliki ruang pertumbuhan.

Karakteristiknya antara lain potensi kenaikan yang lebih besar, harga yang relatif lebih terjangkau, serta pergerakan harga yang lebih aktif.

Contoh (sekadar ilustrasi):
bank skala menengah, perusahaan properti atau energi menengah, serta emiten industri yang sedang ekspansi.

Saham lapis dua menarik karena berada di fase berkembang, tetapi tetap memerlukan pemantauan rutin.

Saham Kecil: Potensi Besar dengan Risiko Tinggi
Saham kecil (small cap) berasal dari perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil. Harganya sering terlihat murah, tetapi pergerakannya bisa sangat fluktuatif.

Ciri khasnya adalah sensitif terhadap sentimen, pergerakan harga yang cepat, dan informasi perusahaan yang terkadang terbatas.

Contoh (sekadar ilustrasi):
Perusahaan yang baru melantai di bursa, emiten dengan bisnis sangat spesifik, atau perusahaan kecil di sektor teknologi, tambang, atau manufaktur niche.

Saham jenis ini sebaiknya dipelajari lebih dalam sebelum dibeli, terutama oleh pemula.

Jadi, Pemula Sebaiknya Mulai dari Mana?
Tidak ada pilihan yang benar atau salah. Namun, banyak pemula memulai dari blue chip untuk belajar tanpa tekanan besar, lalu beralih ke lapis dua, dan mempertimbangkan saham kecil ketika sudah lebih memahami risiko.

Banyak investor juga mengombinasikan ketiganya agar portofolio lebih seimbang. Memahami jenis saham adalah langkah awal sebelum berinvestasi. Dengan mengenali karakter masing-masing, kamu bisa membuat keputusan yang lebih rasional dan sesuai dengan tujuan keuangan. Investasi bukan soal cepat, tetapi soal konsisten dan sadar risiko