Dari Dapur ke Digital: Perempuan UMKM Bangkit dengan AI

Jakarta, 30 Maret 2026 – Di tengah berbagai tantangan ekonomi, semakin banyak perempuan yang mengambil peran lebih besar untuk membantu keluarga. Bagi sebagian dari mereka, membangun usaha sendiri menjadi salah satu cara untuk tetap hadir bagi keluarga dan menjalankan perannya sebagai ibu, sekaligus ikut menopang perekonomian rumah tangga.

Perkembangan teknologi digital, termasuk teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kini membuka lebih banyak peluang bagi pelaku UMKM perempuan untuk memulai dan mengembangkan usaha, bahkan dari dapur rumah mereka sendiri.

Melalui berbagai platform digital seperti ekosistem Grab, pelaku usaha dapat menjangkau pelanggan yang lebih luas, memahami kebutuhan pasar, serta mengelola bisnis secara lebih efisien.

Kisah ketangguhan tersebut tercermin dalam perjalanan dua pelaku UMKM perempuan yang menjalankan usaha kuliner sembari tetap mengurus keluarga, yaitu Efa Fauziah, pemilik Mie Aceh 769 Pijay, dan Rohani Sembiring, pemilik Risoles Mbak Any.

Baca juga: Ketimbang Nambang Timah Pria ini Lebih Pilih Usaha Madu

Bagi keduanya, membangun usaha bukan sekadar soal penjualan. Di balik setiap pesanan yang datang, ada cerita tentang seorang ibu yang berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya, serta keberanian untuk terus belajar dan beradaptasi.

Bermual dari Dapur Sederhana

Bagi Efa Fauziah, 46, Mitra GrabMerchant, perjalanan usahanya dimulai dari situasi yang penuh tantangan. Sebelumnya, Efa dan keluarga sempat menghadapi dampak gempa Pidie Jaya di Aceh pada 2016, yang diikuti dengan kondisi ekonomi yang tidak kunjung membaik. Pada 2019, ia dan suaminya memutuskan merantau dari Aceh ke Bogor, Jawa Barat, bersama lima anak mereka dengan harapan memulai kehidupan baru. Berbekal keahlian memasak Mie Aceh yang telah lama dimiliki keluarga, Efa dan suami kemudian mulai merintis usaha Mie Aceh pada akhir 2019, dengan membuka usaha tersebut di sebuah ruko kecil di Bogor.

“Awalnya kami menjalankan usaha ini hanya berdua saja. Suami memasak dan saya membantu di depan. Semua dikerjakan sendiri tanpa karyawan. Perjalanan usaha kami tidak selalu berjalan mulus. Pada 2020, saya dan keluarga memutuskan pindah ke Jakarta untuk mencari peluang baru. Saat itu, suami kembali memulai dari awal dengan bekerja sebagai juru masak di sebuah warung Aceh di kawasan Pasar Minggu, sebelum akhirnya aktivitas usaha tersebut harus terhenti akibat kebakaran,” cerita Efa.

Berbagai tantangan tersebut tidak menggoyahkan semangat Efa sebagai seorang ibu untuk terus meningkatkan ekonomi keluarga. Pada Desember 2020, ia kembali merintis usaha Mie Aceh dari nol secara sederhana bersama keluarga, hingga kemudian Mie Aceh 769 Pijay mulai mendapatkan pelanggan tetap dan semakin dikenal.

Sejak bergabung menjadi Mitra GrabFood pada 2020, Efa mulai merasakan bagaimana platform digital membantu memperluas jangkauan usahanya. Jika pada awalnya penjualan hanya sekitar 10 hingga 15 porsi per hari, kini jumlah pesanan terus meningkat lebih dari sepuluh kali lipat yang kini mencapai 150 porsi per hari.

Saat ini, sekitar 80 persen penjualan usaha Mie Aceh 769 Pijay berasal dari pesanan online yang sebagian besar datang dari pelanggan melalui platform digital. Kini usaha tersebut telah memiliki dua cabang dengan menu andalan seperti Mie Aceh Daging Full dan Mie Aceh Extreme yang menjadi produk best seller dari Mie Aceh 769 Pijay.

Bagi Efa, teknologi bukan hanya soal membuka kanal penjualan baru, tetapi juga membantu mengambil keputusan bisnis. Salah satu fitur yang menurutnya paling membantu adalah GrabMerchant AI Assistant, fitur berbasis kecerdasan buatan yang membantu merchant memahami performa bisnis mereka, mulai dari membaca tren penjualan, melihat menu yang paling diminati pelanggan, hingga mendapatkan rekomendasi strategi promosi.

“Dengan GrabMerchant AI Assistant rasanya seperti punya teman diskusi dalam menjalankan bisnis. Saya bisa bertanya menu mana yang sebaiknya dipromosikan atau kapan waktu terbaik untuk menjalankan promo,” ujarnya.

Selain memanfaatkan fitur digital di GrabMerchant, Efa juga aktif di Komunitas SERABI (Sekumpulan Perempuan Bisa) Grab. Lewat komunitas ini, ia tidak hanya belajar dari sesama merchant, tetapi juga berbagi pengalaman tentang pengelolaan usaha, fitur di aplikasi, hingga cara menangani pelanggan. Bagi Efa, komunitas tersebut menjadi ruang belajar yang memperkuat keyakinannya bahwa pelaku usaha perempuan bisa tumbuh bersama, saling membantu, dan terus beradaptasi di tengah perubahan.

Pesanan Naik Lebih dari Dua Kali Lipat

Jika Efa memulai usaha dari perjuangan merantau, perjalanan usaha Rohani Sembiring, 40, Mitra GrabMerchant yang lebih dikenal sebagai Mbak Any, juga berangkat dari kisah serupa. Ia merupakan perantau asal Medan yang pindah ke Jakarta bersama suami sejak sekitar tahun 2010 untuk mencari peluang hidup yang lebih baik.

Saat pandemi dan kondisi ekonomi keluarga semakin sulit, ia mulai merintis usaha Risoles Mbak Any dari rumah kontrakannya di Jakarta untuk membantu perekonomian keluarga, sementara suaminya bekerja sebagai Mitra Pengemudi Grab. Usaha yang awalnya hanya dibuka melalui PO (pre-order) kecil-kecilan kepada tetangga dan teman sekitar rumah ini kemudian berkembang setelah produknya dijual melalui platform digital.

Baca juga: Kisah Virda, Warung Keluarga di Jepara yang Bertransformasi Jadi UMKM Digital

Seiring waktu, camilan risolesnya semakin dikenal pelanggan lewat beberapa menu favorit, terutama risoles ayam sayur dan risoles beef mayo, yang menjadi best seller di tokonya, serta berbagai varian menu lain yang terus ia kembangkan.

Di awal merintis usaha, perjalanan Mbak Any tidak selalu mudah. “Kadang ada banyak risoles yang tidak habis terjual. Biasanya saya bagikan ke orang sekitar atau ke masjid,” kenangnya.

Namun, bagi Mbak Any, sebagai seorang ibu dengan tiga anak yang masih bersekolah, menyerah bukanlah pilihan. “Hal yang membuat saya tetap bertahan itu anak-anak serta dukungan dari suami,” ujarnya.

Kini, setelah sekitar enam tahun berjalan, usaha Risoles Mbak Any telah berkembang hingga membuka cabang kedua dan mempekerjakan beberapa karyawan untuk membantu operasional usaha. Bahkan anak pertamanya yang kini duduk di bangku SMA juga mulai membantu usaha keluarga sepulang sekolah.

Pertumbuhan usahanya juga terasa dari sisi pesanan. Seperti pada bulan Ramadan, Risoles Mbak Any bisa menerima pesanan hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan hari biasa. Saat ini sekitar 90 persen penjualan Risoles Mbak Any berasal dari pesanan online melalui Grab, sementara sisanya berasal dari pembelian langsung di toko.

Seperti Efa, Rohani juga mulai memanfaatkan GrabMerchant AI Assistant untuk membantu memahami data penjualan dan menentukan strategi promosi. “Sekarang saya seperti punya temanuntuk berdiskusi soal bisnis. Kalau penjualan menurun, saya bisa mencari tahu  strategi apa yang bisa dilakukan,” kata Mbak Any.

Melalui fitur ini, merchant dapat memperoleh rekomendasi terkait menu yang potensial untuk dipromosikan, jenis promo yang sesuai dengan kondisi usaha, hingga insight mengenai pola pembelian pelanggan.