Di Tengah Gejolak Timur Tengah, Pupuk Indonesia Berpeluang untuk Ekspor
Jakarta, 7 April 2026 — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan peran strategisnya dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk, baik untuk kebutuhan domestik maupun global.
Memasuki usia ke-14, Pupuk Indonesia menjadikan momentum ini untuk memperkuat komitmen dalam mendukung ketahanan pangan nasional, sekaligus berkontribusi terhadap keseimbangan pasokan pupuk dunia. Mengusung tema “Transform, Sustain, Empower”, perusahaan terus melakukan transformasi menyeluruh di berbagai lini.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan tetap pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
“Di tengah dinamika global, prioritas kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi. Namun, dengan kapasitas yang dimiliki, Indonesia juga memiliki ruang untuk berkontribusi menjaga keseimbangan pasokan global,” ujarnya.
Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, Pupuk Indonesia membuka peluang ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton guna mendukung stabilitas pasar global, terutama saat rantai pasok terganggu akibat konflik geopolitik.
Dengan kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk 9,4 juta ton urea, Indonesia dinilai memiliki daya tahan lebih kuat dalam menghadapi tekanan global. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen urea penting di dunia.
Transformasi yang dilakukan juga mencakup pembenahan kebijakan subsidi, distribusi, hingga penguatan struktur pembiayaan. Perubahan skema subsidi menjadi berbasis pasar (market-based mechanism) serta dukungan pembayaran sebagian di muka memberikan fleksibilitas finansial yang lebih besar bagi perusahaan.
“Revitalisasi menjadi kunci agar industri pupuk nasional tetap kompetitif. Dalam lima tahun ke depan, kami menargetkan pembangunan dan peremajaan tujuh pabrik untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi,” kata Rahmad.
Dampak transformasi tersebut mulai terlihat. Penyaluran pupuk bersubsidi kini dapat dilakukan tepat waktu sejak awal tahun selama dua tahun berturut-turut. Selain itu, harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi juga turun hingga 20% pada 2025, yang mendorong peningkatan penyerapan hingga 31% pada kuartal I 2026.
Komisaris Utama Pupuk Indonesia, Sudaryono, menambahkan bahwa penguatan industri pupuk nasional membuka peluang Indonesia untuk berperan lebih besar di pasar global.
“Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia. Ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan global,” ujarnya.
Ke depan, Pupuk Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat industri yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan, serta memastikan pupuk semakin mudah diakses dan terjangkau bagi petani.
