Food Genomics: Pola Makan Berbasis DNA, Apa Lagi Nih?
Jakarta, 9 Desember 2025 — Gaya hidup sehat kini bergerak ke arah yang semakin personal. Salah satu pendekatan yang mulai mencuri perhatian adalah food genomics atau nutrigenomik, metode pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan profil DNA individu. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab keterbatasan diet konvensional yang kerap menghasilkan dampak berbeda pada setiap orang.
Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, di mana rekomendasi asupan disusun berdasarkan kode genetik masing-masing individu. Perbedaan gen membuat respons tubuh terhadap makanan—mulai dari metabolisme, penyerapan nutrisi, hingga potensi intoleransi—tidak selalu sama pada setiap orang.
Baca juga: Diabetes, Mother of Diseases: Tidak Bisa Disembuhkan Tapi Bisa Dikontrol
“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat.
Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit dan gaya hidup sehat yang lebih presisi. Di Indonesia sendiri, pemeriksaan food genomics masih tergolong terbatas, meski kajian ilmiah mengenai hubungan gen dan nutrisi telah cukup banyak dilakukan.
Tes food genomics umumnya dilakukan melalui sampel darah atau air liur dengan waktu analisis sekitar satu hingga dua minggu. Hasil pemeriksaan kemudian diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik untuk menyusun rekomendasi nutrisi personal, mulai dari pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D, asupan lemak esensial omega-3, hingga saran aktivitas fisik yang sesuai.
“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Namun dalam praktiknya, tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan seperti pola hidup, tingkat stres, serta aktivitas fisik. Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” jelas dr. Davie.
Baca juga: MBG dan Tantangan Gizi Anak Indonesia: Saat Makan Sehat Jadi Investasi Masa Depan
Selain membantu menyusun pola makan yang lebih tepat, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran potensi alergi atau intoleransi makanan. Informasi ini berguna untuk membantu individu menghindari asupan yang berisiko memicu gangguan kesehatan di kemudian hari.
Meski demikian, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukanlah pengganti prinsip dasar hidup sehat. Langkah sederhana seperti makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi gizi yang lengkap dan seimbang tetap menjadi fondasi utama.
Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu modalitas penunjang gaya hidup sehat yang lebih presisi, terutama dengan potensi integrasi bersama teknologi AI, big data, dan perangkat wearable.
“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutup dr. Davie.
