Indonesia Paling Bahagia di Tempat Kerja se-Asia Pasifik, Kok Bisa?
Jakarta, 3 Februari 2026 — Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan di tempat kerja tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Namun di balik angka yang terlihat optimistis, laporan terbaru Jobstreet by SEEK juga mengungkap sisi lain dunia kerja: stres, burnout, dan kekhawatiran akan masa depan pekerjaan akibat teknologi.
Temuan tersebut tertuang dalam laporan Workplace Happiness Index, hasil survei daring terhadap sekitar 1.000 responden usia produktif di Indonesia sepanjang Oktober–November 2025.
Sebanyak 82% responden mengaku merasa cukup atau sangat bahagia di tempat kerja—angka yang jauh melampaui negara-negara lain di kawasan seperti Singapura, Australia, dan Hong Kong.
Kebahagiaan ini tidak semata ditopang oleh gaji. Laporan mencatat, keseimbangan kehidupan kerja dan tujuan atau makna pekerjaan justru menjadi faktor utama yang membuat pekerja merasa betah. Rekan kerja yang suportif, lokasi kerja, serta perasaan bahwa pekerjaan memiliki arti juga menempati posisi penting dalam membentuk kepuasan kerja.
Baca juga: Generasi 90-an: Generasi Paling Bahagia Sekaligus Paling Lelah
“Gaji memang penting untuk menarik talenta, tapi kebahagiaan jangka panjang lebih mungkin tercapai ketika karyawan merasa pekerjaannya bermakna dan memiliki ruang untuk hidup di luar pekerjaan,” ujar Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia.
Meski demikian, laporan ini juga mencatat tekanan yang belum sepenuhnya teratasi. Lebih dari separuh responden mengaku terbebani oleh tuntutan kerja, sementara hampir setengahnya merasakan tingkat stres yang tinggi. Sebanyak 43% pekerja bahkan mengaku mengalami kelelahan mental atau burnout—ironisnya, sebagian dari mereka tetap menganggap diri “bahagia”.
Kesenjangan kebahagiaan juga terlihat antar generasi. Pekerja Gen X dan Milenial mencatat tingkat kepuasan tertinggi, didukung pengalaman dan ritme kerja yang relatif stabil. Sebaliknya, Gen Z justru menjadi kelompok dengan tingkat kebahagiaan terendah, dipengaruhi perasaan kurang dihargai dan kesulitan menemukan makna dari tugas sehari-hari.
Dari sisi sektor dan wilayah, industri teknologi menempati posisi teratas dalam tingkat kebahagiaan kerja, sementara kawasan Jabodetabek mencatat skor tertinggi secara geografis.
Namun, laporan ini menegaskan bahwa tingginya kebahagiaan tidak otomatis meniadakan risiko. Kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan (AI) mulai menguat, dengan 42% responden merasa teknologi tersebut berpotensi mengancam keamanan pekerjaan mereka.
“Angka kebahagiaan yang tinggi tidak boleh membuat perusahaan lengah. Burnout dan kecemasan terhadap AI adalah alarm,” kata Wisnu. Menurutnya, tantangan ke depan bukan sekadar menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, tetapi memastikan kebahagiaan tersebut berkelanjutan.
“Pencapaian Indonesia sebagai pemimpin kebahagiaan kerja di Asia Pasifik merupakan cerminan dari optimisme dan budaya positif yang kuat di tanah air. Namun, perusahaan tidak boleh terlena,” tegas Wisnu.
Baca juga: Kolaborasi Industri dan SMK Siapkan Talenta Siap Kerja
Namun, angka burnout (lelah secara mental) sebesar 43% dan kekhawatiran terhadap AI, lanjut Wisnu, menjadi ‘alarm’ bagi para pemberi kerja untuk bertindak proaktif.
“Kebahagiaan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika perusahaan mampu menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan mental karyawan,” tutup Wisnu.
Melalui laporan ini, Jobstreet by SEEK mendorong perusahaan untuk fokus pada tiga strategi utama yaitu membangun makna kerja bagi setiap level karyawan, mendukung batasan kehidupan pribadi melalui fleksibilitas, serta mendengarkan kebutuhan spesifik antar-generasi.
Penting juga bagi perusahaan dan jajaran manajemen untuk menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan sekat komunikasi dan menciptakan lingkungan yang inklusif agar kandidat terbaik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
