Laba Bersih OCBC Tembus Rp5,1 Triliun
Jakarta, 29 Januari 2026 — PT Bank OCBC NISP Tbk menutup tahun buku 2025 dengan laba bersih Rp5,1 triliun, naik 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini ditopang oleh penguatan fundamental, terutama dari sisi dana murah.
Sementara itu, Current Account and Savings Account (CASA) OCBC dilaporkan tumbuh signifikan 24% menjadi Rp141,1 triliun, mendorong total dana pihak ketiga naik 18% ke level Rp243,5 triliun. Porsi CASA pun meningkat menjadi 58%, menandakan kepercayaan nasabah ritel dan bisnis yang semakin solid.
Baca juga: Laba Bersih Rumah Sakit ini Meroket 950%, Apa Resepnya?
Di sisi pembiayaan, total kredit tercatat tumbuh 2% menjadi Rp173,4 triliun. Pertumbuhan yang relatif moderat ini diimbangi dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (Gross NPL) berada di level 1,9%, dengan rasio pencadangan yang kuat di angka 226%. Bagi perbankan, ini adalah sinyal disiplin—tidak mengejar ekspansi agresif, tetapi memastikan risiko tetap terkendali.
Likuiditas OCBC juga berada di posisi yang nyaman. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 240,9%, jauh di atas ambang regulasi. Total aset bank meningkat 10% menjadi Rp308,1 triliun, sementara ekuitas tumbuh 8% menjadi Rp43,9 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) naik ke 24,5%, memberi ruang yang cukup luas untuk menopang pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.
Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk, Parwati Surjaudaja menyampaikan, bahwa Bank tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengelolaan risiko yang prudent.
“Sepanjang tahun 2025, Bank tetap mampu menjaga kinerja yang solid di tengah dinamika makroekonomi. Penguatan dana pihak ketiga dan kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja Bank ke depan,” ujar Parwati.
Baca juga: Maybank Luncurkan ROAR30, Strategi Lima Tahun untuk Perkuat Posisi di ASEAN
Transformasi digital menjadi pilar lain yang terus diperkuat. Sepanjang 2025, volume transaksi digital OCBC melonjak 46% secara tahunan, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp1.500 triliun.
Adapun jumlah pengguna aktif mobile dan internet banking terus meningkat, baik dari segmen ritel maupun korporasi. Digitalisasi tidak lagi sekadar efisiensi operasional, tetapi juga menjadi pintu masuk utama dalam membangun pengalaman nasabah.
