Libatkan Content Creator Muda: Cara Baru Dorong Literasi Finansial

Jakarta, 21 Januari 2026 – Rendahnya literasi asuransi masih menjadi pekerjaan rumah besar sektor keuangan Indonesia. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks literasi perasuransian baru 45,45 persen, sementara tingkat inklusinya tertahan di angka 28,50 persen—jauh di bawah sektor perbankan.

Di saat yang sama, lanskap digital justru melaju cepat. Hampir seluruh pengguna internet di Indonesia aktif di media sosial, dan generasi muda kini menjadi motor utama produksi sekaligus distribusi konten. Menurut data DOSS tahun 2025, Indonesia menempati posisi ke-5 dunia dengan 8 (delapan) juta content creator.

Baca juga: Mau Nutup Akun Medsos? Pertimbangkan dulu Beberapa hal ini

Celah inilah yang coba dimanfaatkan Generali Indonesia lewat “Youth Empowerment Social Media Competition”, sebuah kompetisi yang mendorong kreator muda menyampaikan edukasi asuransi dengan bahasa visual dan narasi yang lebih membumi.

Kompetisi yang berlangsung sejak Oktober 2025 ini menjaring ribuan peserta dari berbagai daerah. Dari proses kurasi dan penilaian, terpilih 35 pemenang dengan total hadiah Rp250 juta. Tiga pemenang utama adalah Agus Munandar (34) asal Bandung sebagai juara pertama dengan hadiah Rp100 juta, disusul Asep Fitra Kusmana (28) asal Bandung yang meraih Rp50 juta, serta Gogo Tio P. Tambunan (34) asal Surabaya dengan hadiah Rp25 juta.

Pengumuman pemenang dilakukan dalam seremoni yang dihadiri jajaran manajemen Generali Indonesia bersama praktisi konten digital. Menurut Director Generali Indonesia Jutany Japit, tingginya partisipasi menunjukkan bahwa isu asuransi sebenarnya memiliki ruang di kalangan anak muda, selama disampaikan dengan pendekatan yang tepat.

“Antusiasme ribuan peserta membuktikan semangat generasi muda untuk berkontribusi. Literasi asuransi tidak cukup hanya lewat produk, tetapi juga melalui edukasi yang relevan dan kreatif,” ujar Jutany.

Penilaian serupa disampaikan Ajazil Hawaris, digital creator sekaligus juri kompetisi. Ia menilai banyak karya peserta—termasuk para pemenang—mampu menerjemahkan isu proteksi finansial menjadi konten yang dekat dengan keseharian audiens media sosial, tanpa kehilangan substansi edukatifnya.

Baca juga: Literasi Keuangan Harusnya Hilangkan Kesan Elitis

“Kompetisi ini membuktikan bahwa kreativitas bisa menjadi jembatan edukasi. Banyak karya yang menarik secara visual dan mampu menyampaikan pesan proteksi asuransi dengan cara yang dekat dengan generasi muda,” tuturnya.

Di tengah dominasi Gen Z dan milenial yang kini mencakup lebih dari separuh populasi Indonesia, pendekatan kolaboratif seperti ini menandai perubahan strategi literasi keuangan: dari model satu arah menjadi partisipatif, dari forum formal ke ruang digital. Jika konsisten, model ini berpotensi menjadi katalis peningkatan literasi dan inklusi asuransi lintas generasi.