Lima Kebiasaan Keuangan yang Masih Membebani Orang Indonesia di 2026

Jakarta, 10 Januari 2026 — Tahun baru kerap datang bersama resolusi finansial: ingin lebih rapi mengatur uang, menabung konsisten, hingga berani berinvestasi. Namun, data menunjukkan perubahan kebiasaan tidak selalu sejalan dengan niat. OCBC Financial Fitness Index 2025 mencatat, masih banyak masyarakat Indonesia yang terjebak pola keuangan lama yang berisiko menghambat kesehatan finansial jangka panjang.

Salah satu kebiasaan paling menonjol adalah mengandalkan pinjaman dari orang terdekat. Sekitar 39% responden mengaku masih sering meminjam uang ke teman atau keluarga, terutama untuk menopang gaya hidup. Fenomena ini mencerminkan kondisi klasik “lebih besar pasak daripada tiang”, di mana pengeluaran tak sebanding dengan kemampuan.

Baca juga: BCA dan Nicholas Saputra Ajak Mahasiswa Siapkan Diri Hadapi Tantangan Zaman

Masalah berikutnya adalah pengeluaran yang melampaui pemasukan. Sebanyak 14% masyarakat tercatat memiliki pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Kondisi ini bukan semata soal kurangnya penghasilan, tetapi juga minimnya disiplin dalam mengelola gaya hidup. Dalam situasi seperti ini, menabung dan merencanakan masa depan kerap menjadi hal yang terpinggirkan.

Di sisi lain, penggunaan kartu kredit masih menyimpan persoalan laten. Data menunjukkan 56% pemilik kartu kredit hanya membayar tagihan minimum. Meski terasa aman dalam jangka pendek, kebiasaan ini berpotensi menjebak keuangan ke dalam beban bunga yang berkepanjangan. Alat bantu transaksi pun berisiko berubah menjadi sumber tekanan finansial.

Tekanan sosial juga menjadi faktor yang tak kalah besar. Sebanyak 76% responden mengaku menghabiskan uang demi mengikuti gaya hidup lingkungan sekitar, mulai dari nongkrong, liburan, hingga tren belanja. Fear of Missing Out (FOMO) membuat banyak orang kehilangan kendali atas tujuan finansial yang sebenarnya ingin dicapai.

Baca juga: Healing Tahun Baru Jangan Sampai Anggaran Jebol, OCBC Ungkap Baru 12% Masyarakat Disiplin Finansial

Kebiasaan terakhir yang patut dicermati adalah hasrat mencari keuntungan instan. Di tengah maraknya narasi sukses cepat di media sosial, sekitar 10% masyarakat tercatat melakukan spekulasi berlebihan demi cuan singkat. Tanpa pemahaman risiko yang memadai, jalan pintas ini justru kerap berujung pada kerugian.

Lima kebiasaan ini menunjukkan bahwa tantangan literasi dan disiplin keuangan masih relevan di 2026. Tahun baru sejatinya bisa menjadi momentum untuk mereset pola lama—bukan dengan target muluk, melainkan dengan kebiasaan kecil yang lebih realistis dan terukur. Mengelola keuangan bukan soal cepat kaya, tetapi tentang konsistensi dan keberanian menunda kepuasan demi tujuan jangka panjang.