Lonjakan Investasi AI Jelang Ramadan, Ritel Masuki Fase Baru Pengalaman Belanja

Jakarta, 24 Februari 2026 – Menjelang Ramadan dan Idulfitri, lanskap ritel global memasuki babak baru. Studi terbaru yang dilakukan IBM bersama National Retail Federation (NRF) menunjukkan bahwa meski 72% konsumen masih berbelanja di toko fisik, hampir separuhnya (45%) kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung perjalanan belanja mereka.

AI digunakan mulai dari riset produk (41%), menafsirkan ulasan (33%), hingga mencari penawaran terbaik (31%). Artinya, konsumen kini datang ke toko bukan lagi sekadar melihat-lihat, melainkan dengan preferensi yang lebih terarah dan keputusan yang semakin berbasis data.

Baca juga: Perkuat Keamanan Data dan Tata Kelola AI, BCA Raih Sertifikasi ISO 27701 dan ISO 42001

Perubahan ini menegaskan bahwa kanal fisik dan digital kian terintegrasi. Pengalaman belanja tidak lagi linier. Sebanyak 35% responden masih menginginkan toko yang menarik secara visual dan proses belanja tanpa antrean. Namun, solusi berbasis AI kini hampir sama pentingnya.

Satu dari tiga konsumen mencari super app yang mengintegrasikan belanja dengan berbagai layanan lain. Sebanyak 30% mengharapkan ekosistem rumah pintar dengan personal shopper berbasis AI serta pengiriman otonom, dan 29% menginginkan proses pembelian yang lebih mudah melalui platform sosial.

Tren ini sangat relevan bagi Indonesia. Berdasarkan data International Trade Administration, Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi lebih dari 52% total volume bisnis online ASEAN. Pada 2023, nilai pasar diperkirakan mencapai USD 52,93 miliar dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 86,81 miliar pada 2028.

Managing Director IBM Indonesia, Juvanus Tjandra, menilai industri ritel nasional tengah berada di titik transformasi penting.

“Industri ritel Indonesia telah memasuki fase transformatif yang krusial. AI tidak lagi sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan menjadi fondasi untuk membangun koneksi yang lebih mendalam, aman, dan cerdas dengan konsumen yang semakin digital dan selalu terhubung. Pelaku ritel yang mengintegrasikan AI ke dalam strategi data dan pengalaman pelanggan akan menentukan era pertumbuhan berikutnya,” ujarnya.

Sektor perdagangan, termasuk ritel, menyumbang sekitar 12,96% terhadap PDB Indonesia. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan dominasi konsumen muda yang adaptif terhadap teknologi, Indonesia menjadi pasar yang sangat prospektif bagi inovasi berbasis AI.

Strategi Ritel Menghadapi Konsumen Berbasis AI

Seiring AI mengubah cara konsumen mengambil keputusan, pelaku ritel perlu bergerak lebih strategis, antara lain dengan:

Baca juga: MR.D.I.Y. Catat Laba Bersih Rp285 Miliar di Kuartal III 2025, Ekspansi Toko Jalan Terus

  • Mendesain ulang perjalanan pelanggan dengan mengidentifikasi momen ketika konsumen memanfaatkan AI untuk riset dan perbandingan produk.
  • Memanfaatkan agen AI untuk mengurangi ketidakpastian sejak tahap awal, termasuk pencarian promo dan interpretasi ulasan.
  • Memprioritaskan kesiapan data lintas kanal, mengingat 54% eksekutif brand masih menghadapi tantangan integrasi sistem.
  • Menonjolkan identitas brand dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan relevansi tanpa menghilangkan kreativitas dan keaslian.
  • Berinvestasi pada kapabilitas dan kemitraan AI, karena 51% eksekutif mengakui keterbatasan keahlian sebagai hambatan utama.

Bagi ritel Indonesia, kuncinya bukan sekadar mengadopsi AI, melainkan mengintegrasikannya secara tepat dalam operasional tanpa menghilangkan kedekatan budaya dan hubungan personal yang selama ini menjadi kekuatan utama.

Momentum hari raya tahun ini tak hanya menjadi puncak aktivitas belanja, tetapi juga penanda dimulainya fase baru inovasi ritel berbasis AI di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *